Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Longsornya jalan tol Surabaya-Gempol kilometer 6.200 pada Selasa (26/1) malam lalu, dinilai karena tidak adanya perhatian maksimal dari jasa marga atas pemeliharaan jalan tol. Demikian juga, dengan Jasa Marga yang dinilai hanya mengeruk keuntungan saja.

Penegasan itu dikemukakan Ketua Organda Tanjung Perak, Kody Lamahayu Fredy, di Surabaya Jumat (29/1) kemarin. Akibatnya, kata dia, sebagai dampak longsornya atau amblesnya jalan tol ini, pihak Organda Tanjung Perak menyatakan, sangat berpengaruh terhadap mobilitas barang yang berdampak terhadap biaya operasional yang di keluarkan.

Menurut Kody, sudah 20 tahun lebih tol ini beroperasi, dan tidak ada perhatian yang maksimal dari pihak Jasa Marga. Sehingga pada posisi kilometer 6.200 longsor dan ambles.

Dari analisa Organda Tanjung Perak, menurut dia, pada waktu pembangunan jalan tol ini pengurukan tanah tidak padat, dan memiliki ketinggian 4 sampai 5 meter dan dibawah jalan tol ada pemukiman padat penduduk dengan berbagai aktifitas. Dari kejadian ini, pihak Organda Tanjung Perak menilai Jasa Marga hanya mengeruk keuntungan dan tidak memperhatikan kondisi jalan tol yang dikelolanya selama 20 tahun lebih yang berakibat merugikan anggota Organda. Kerugian tersebut diantaranya, pengalihan arus kendaraan besar melalui dalam Kota Surabaya, sangat berpengaruh terhadap mobilitas barang, segi waktu juga biaya operasional.

Kody, berharap, agar ruas tol yang longsor ini segera diperbaiki, karena arus perniagaan dari pelabuhan tidak bisa ditunda, dan kondisi jalan harus lancar. Untuk diketahui, jalur tol Surabaya – Gempol , ruas atau jalur tol Dupak – Satelit yang mengarah ke Waru longsor di kilometer 6.200 sejak Selasa (26/1) 2021 lalu. Ruas jalan tol sekarang sedang dalam proses perbaikan, jasa marga melakukan pemeliharaan arus di sejumlah pintu masuk tol untuk kendaraan golongan 1 diperbolehkan melintas. Sedangkan, golongan diatasnya diarahkan untuk melalui jalur lain. (farid/stv)