Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Tuntutan pola hidup sehat dan adanya peningkatan permintaan pasar di era pandemi Covid-19, menjadikan tanaman hidroponik sebagai primadona makan sehat yang layak dikonsumsi. Sistem  yang ditemukan di abad ke-16 ini, mulai dikenal di Indonesia pada 1980-an, dan kian berkembang di era tahun 2.000 hingga saat ini.

Seiring berkembangnya teknologi di bidang pertanian, hidroponik saat ini mulai memanfaatkan sinar lampu UV sebagai pengganti cahaya matahari di malam hari. Pemanfaatan sinar lampu UV ini bukan tanpa alasan, hasil penelitian dari Fakultas Pertanian, Universitas Lampung di tahun 2015 menunjukkan, pemanfaatan Lampu LED pada tanaman selada dengan sistem hidroponik, mendorong pertumbuhan vegetatif terbaik pada tanaman tersebut.

Hal ini juga yang menjadikan para pelaku hidroponik mulai merambah mengembangkan sistem hidroponik dengan sinar lampu UV untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Peluang ini, ditangkap program PLN Peduli yang bekerja sama dengan Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S) Buana Lestari yang berlokasi di Wisata Edukasi Tani Terpadu (WETT) Betet, Desa Betet, Kabupaten Nganjuk.

Wisata edukasi ini, mulai mengembangkan sistem hidroponik dengan memanfaatkan sinar lampu UV pada akhir tahun 2020. Ketua P4S Jawa Timur/Jatim, Ahmad Syaikhu, menyampaikan bahwa edukasi menanam dengan hidroponik ini sangat digemari masyarakat dan telah banyak pihak yang menghubungi untuk mempelajari teknik pengairan dan penyinaran lampu UV tersebut.

Sementara, Asrori yang merupakan motor dari program hidroponik sinar lampu UV di WETT Betet, mengungkapkan, bahwa teknik hidroponik dengan memanfaatkan sinar lampu UV sebagai pengganti cahaya matahari di malam hari, membuat pertumbuhan tanaman akan lebih optimal. Ini dikarenakan, tanaman akan tetap berfotosintesis dengan bantuan sinar lampu UV meskipun di malam hari.

Menurut Asrori, tanaman sayur organik dengan metode hidroponik yang memanfaatkan aliran listrik untuk pengairan juga penerangan sinar lampu UV di malam hari, membuat nutrisi yang dibutuhkan tanaman terus terjaga serta mendapatkan cukup sinar selama 24 jam penuh.

Dengan sistem pengairan yang stabil dan penerangan dengan lampu UV ini, sayur organik ini dapat dipanen hanya dalam waktu 30-35 hari saja, lebih cepat dari waktu normalnya yakni 45 hari, beratnya pun bisa mencapai 200-250 gram untuk setiap batang tanamannya. Tentunya lebih berat dari hidroponik biasa yang biasanya hanya mencapai 150 gram per batang tanamannya.

‘’Perlu diingat bahwa lampu yang digunakan harus lampu khusus yang biasa disebut GROW LED yang memancarkan spektrum cahaya ultraviolet, jarak antar lampu pun harus menyesuaikan yakni idealnya 1 lampu untuk 2m2 dengan tinggi 150 cm dari tanaman,” terang Asrori di Surabaya, Sabtu (23/1).

Asrori menambahkan bahwa dari segi kualitas, tanaman yang menggunakan sistem ini, memiliki daun yang lebih cerah, akar yang putih cerah dimana hal ini merupakan indikator bahwa tanaman tersebut sehat. “Dari segi rasa juga tidak perlu khawatir, karena tidak pahit, ini pun sekaligus aman untuk langsung dikonsumsi,”imbuhnya.

Bukan hanya sekedar urban farming yang aplikatif dan menjadi solusi pertanian di lahan yang terbatas, terutama di daerah perkotaan, jika ditilik dari segi kalkulator bisnis, sistem hidroponik dengan sinar lampu UV memberikan prospek yang menjanjikan. Investasi yang dikeluarkan tergantung dari skala yang dibutuhkan. Untuk skala kecil rumah tangga 40 lubang, investasi yang dikeluarkan untuk starter kit hidroponik dengan sinar lampu UV sekitar Rp 1,8 juta dengan biaya operasional setiap kali tanam hanya sebesar Rp 100.000. Berat hasil panen untuk setiap lubang berkisar di angka 200-250 gram. (bw)