Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Pandemi membuat pengusaha kafe di Banyuwangi, kelimpungan. Namun, tak boleh menyerah. Harus tetap kreatif, inovatif menggaet konsumen. Seperti yang dilakukan, Hakim Akbar, pemilik kafe di bilangan GOR Tawangalun, Banyuwangi. Agar tak kehilangan pelanggan, dia membuat menu yang bisa memanjakan pelanggan. Sekaligus menjaga kesehatan . Namanya, wedang secang.

Minuman hangat berbahan kayu secang, sejenis rempah khas Banyuwangi. Sepintas, rasa wedang secang mirip aroma cengkeh. Namun, lebih harum. Sehingga, cukup familiar di lidah. Ide membuat wedang secang ini untuk memanjakan konsumen.

“Musim pandemi Corona, kami tawarkan minuman yang bisa membantu imun tubuh karena berbahan rempah,” kata Pemilik Kafe Om Kim, di Banyuwangi, Kamis (21/1) malam. Pria yang akrab dipanggil Akbar, ini menjelaskan, pemilihan menu wedang secang bukan tanpa alasan. Menurut dia, Banyuwangi kaya dengan sumber daya alam. Salah satunya, pohon secang.

“Jadi, kami memanfaatkan potensi lokal untuk minuman herbal, namun rasanya tetap nikmat,” jelasnya.
Ternyata, wedang secang cukup diminati. Rasanya yang gurih, membuat konsumen ketagihan. Ditambah lagi dengan gula putih asli, tanpa perasa buatan.

Warnanya juga menggoda, merah marun. Tampilannya juga unik. Irisan batang secang dikombinasikan dengan air panas. Sehingga, rasanya benar-benar alami. “Minuman ini murni dari alam, sehingga sangat baik bagi tubuh,” ujarnya.

Wedang secang sangat nikmat diminum ketika malam. Hangatnya langsung terasa ketika masuk ke leher. Rasanya juga semriwing, mirip aroma mints. Di musim pandemi, kata Akbar, minuman secang menjadi unggulan di kafenya. Harganya juga murah. Hanya Rp 13.500 per gelas. Sangat terjangkau.

Selain wedang secang, kafenya menyuguhkan sejumlah minuman yang memanjakan pelanggan. Seperti aneka varian kopi hingga es krim. Ada juga beragam camilan yang memanjakan lidah. Seperti, tahu walik dan tahu krispi. Terbaru, kafenya menawarkan camilan banana spring roll dan vegetable spring roll. Pelanggan yang datang kebanyakan tertarik dengan suasana kafe. Tenang dan hijau, jelasnya. Lokasinya juga strategis, di dekat kota Banyuwangi.

Meski omzet turun karena pandemi, pihaknya tetap optimis bisnis kafe bisa jalan. Sebab, masyarakat tetap mencari tempat nongkrong dengan standar protokol kesehatan. “Kalau omzet turun hingga 50 persen, tapi pelanggan tetap ada. Kami cukup ketat terapkan prokes di kafe,” pungkasnya. (wir)