Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur/Jatim berkomitmen untuk terus mendukung Inovasi yang berkelanjutan pada penanganan Covid-19. Hal itu disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, yang berkesempatan berdiskusi dengan Tim Inovasi ITS di Rumah Dinas, Sabtu (16/1).

Pada kesempatan tersebut, Emil, panggilan akrabnya mengapresiasi inovasi berkelanjutan ITS dalam penanganan Covid 19 yaitu alat screening Covid-19 berbasis bau. “Saya dijelaskan bahwa alat ini sudah menjadi atensi bagi Menteri Riset dan Teknologi, ini hal yang sangat membanggakan, kami Pemprov Jatim terus mendukung inovasi berkelanjutan ini,” kata Emil.

Emil berharap, alat screening covid-19 ini bisa segera dirampungkan sehingga bisa berjalan paralel dengan vaksinasi. “Kita sudah mengenal teknologi kecerdasan buatan yang berbasis suara dan penglihatan visual, nah sekarang ini kepekaan penciuman sudah bisa direplikasi menggunakan elektronik” jelasnya.

Seperti yang diketahui Wagub Jatim mendukung Ventilator hasil Inovasi ITS, yang sampai hari ini telah memasuki uji klinis. Sementara itu, perwakilan Tim Inovasi ITS, Prof. Drs.Ec. Ir. Riyanarto Suwarno, M.Sc., Ph.D menjelaskan, temuannya tersebut, alat screening Covid-19 melalui bau keringat ketiak ini telah mendapat respon baik dari Menteri Riset dan Teknologi.

Dalam waktu dekat kami diundang oleh Menristek untuk mempresentasikan Alat ini, harapannya mampu mempercepat hasil tes yang bersifat non-infectious, non-invasive, dan murah jelas Dosen Departemen Teknik Informatika ini.

Pada kesempatan itu juga, Wakil Rektor IV ITS Bidang Riset, Inovasi, Kerjasama, dan Kealumnian Bambang Pramujati, menyampaikan, komitmen ITS dalam berinovasi menciptakan solusi bagi masyarakat.

“Kami ingin berbuat lebih banyak untuk masyarakat dengan produk-produk inovasi khususnya pada saat pandemi seperti ini banyak hal yang bisa kita lakukan dan tentunya sudah mendapat support penuh dari Pemprov Jatim,” tegasnya.

Sementara itu, Tim pengembangan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan ini dipimpin langsung oleh guru besar dari Departemen Teknik Informatika ITS dan melibatkan mahasiswanya dari jenjang magister dan doktoral.

I-nose C-19 merupakan alat screening Covid-19 pertama di dunia yang mendeteksi melalui bau keringat ketiak (axillary sweat odor). i-nose c-19 bekerja dengan cara mengambil sampel dari bau keringat ketiak seseorang dan memprosesnya menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

“Keringat ketiak adalah non-infectious, yang berarti limbah maupun udara buangan i-nose C-19 tidak mengandung virus Covid-19,” ungkap profesor yang karib disapa Ryan ini.Selain itu, lanjutnya, alat ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknologi screening Covid-19 lainnya.

Sampling dan proses berada dalam satu alat, sehingga seseorang dapat langsung melihat hasil screening pada i-nose c-19. Hal ini tentunya menjamin proses yang lebih cepat. ”I-Nose C-19 juga dilengkapi fitur near-field communication (NFC), sehingga pengisian data cukup dengan menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat Covid-19 ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ryan memaparkan bahwa data dalam I-Nose C-19 terjamin handal karena penyimpanannya pada alat maupun cloud. Penggunaan cloud computing mendukung I-Nose C-19 dapat terintegrasi dengan publik, pasien, dokter, rumah sakit maupun laboratorium. ”Dengan berbagai kelebihan yang ada, I-Nose C-19, karya anak bangsa, hadir untuk menjawab tantangan pandemi Covid-19 yang belum terkendali,” ujarnya.

Selain terjamin dari segi biaya karena menggunakan komponen teknologi yang murah, I-Nose C-19 juga tidak membutuhkan keahlian khusus dalam implementasinya. “Scanner ini dapat dilakukan oleh semua orang dengan perangkat pengaman yang lebih sederhana yakni hanya sarung tangan dan masker sebagai perlindungan dasar,” tuturnya.

Diungkapkan Ryan, I-Nose c-19 merupakan hasil penelitian selama empat tahun yang kemudian dioptimalkan dengan menyesuaikan virus Covid-19 sejak Maret 2019 lalu. Saat ini, i-nose c-19 telah sampai pada fase satu uji klinis. “Kedepan akan ditingkatkan lagi data sampling-nya untuk izin edar dan dapat dikomersialkan ke masyarakat,” ujar dosen Teknik Informatika ITS ini.

Ryan berharap, semoga I-Nose c-19 ini dapat segera dikomersialkan dalam waktu maksimal tiga bulan ke depan. “Melihat semakin meningkatnya penyebaran virus Covid-19 ini dunia membutuhkan banyak teknologi screening yang mudah dan cepat diimplementasikan,” pungkasnya. (bw)