Julius Sikku : Kuncinya Jaga Kepercayaan

25

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Mengawali sebuah bisnis, tak semudah membalik telapak tangan. Perlu kerja keras dan semangat pantang menyerah ketika memulainya dari nol. Seperti yang dilakukan CEO PT Gaya Makmur Surabaya/GMS, Julius Sikku.

Pria asal Palopo Sulawesi Selatan/Sulsel ini memutuskan untuk membangun bisnis pertamanya jauh di tanah perantauan, tepatnya di Surabaya. Sebagai anak usaha dari PT Gaya Makmur Tractors dan dipercaya untuk memperluas pasar Indonesia Timur, GMS yang didirikannya ini bergerak dibidang usaha penjualan alat-alat berat sejak 2013.

GMS dipercaya menjadi eksklusif dealer alat-alat berat dari Jerman seperti: Wirtgen, Vogele, HAMM, Kleemann, serta dari China seperti: XCMG dan Shantui; untuk kawasan Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.

Sejumlah alat berat yang dijual seperti: WheelLoader, Motor Grader, Crane, Excavator, Rotary Drilling Rig, Bulldozer, Cold Milling, Cold Recycling, Slipform Paver, Asphalt Paver, dan lainnya. Penerapan teknologi pada alat berat, menjadi nilai tambah penjualan.

Seperti adanya alat berat dengan konsep ‘clean energy’ yang menggunakan baterai dan alat berat tanpa operator yang menggunakan teknologi AI (Artificial Intelligence). “Sektor infrastruktur mempunyai potensi pasar yang terus berkembang. Pemenuhan kebutuhan alat-alat berat juga secara tidak langsung ikut mendukung program pembangunan infrastruktur pemerintah,” kata Julius Sikku, kepada bisnissurabaya.com di Surabaya, Kamis (14/1) kemarin.

Berbekal pengetahuan, relasi, dan pengalaman kerja di sebuah perusahaan leasing alat berat, akhirnya diputuskannya untuk merintis GMS sejak tujuh tahun yang lalu. Masa-masa sulit dirasakan saat awal merintis usaha.

Menurut dia, bukan hal yang mudah untuk membuat customer yakin dengan kualitas produk yang ditawarkan. Apalagi bagi mereka yang sudah familiar dengan brand ternama sebelumnya. Dengan ketekunan dan semangat pantang menyerah, masa sulit tersebut berhasil dilalui.

“Kuncinya adalah membangun dan menjaga kepercayaan,” ujarnya mantap. Komitmen untuk selalu memberikan layanan yang terbaik dan tidak mengecewakan, membuat GMS berhasil dipercaya sebagai provider alat-alat berat untuk berbagai project pembangunan infrastruktur.

Pandemi juga menjadi masa sulit yang berdampak pada industri alat berat. Banyak project yang ditunda pelaksanaannya. Penurunan omzet hingga 50 persen dialami pada masa pandemi ini. Namun, hal itu tak membuat jadi patah semangat.

“Berusaha tetap optimis walau di masa sulit,” ungkap Julius. Beberapa strategi dilakukan. Seperti memaksimalkan sistem komputerisasi untuk mengurangi beaya operasional serta memanfaatkan penggunaan sosial media. Seperti youtube, instagram, dan facebook untuk aktivitas marketing dengan tujuan menjangkau pasar yang lebih luas dan belum tersentuh sebelumnya.

“Mencari pasar baru itu penting, namun menjaga kepercayaan existing customer jauh lebih penting. Masih ada harapan untuk kondisi yang lebih baik di tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Sejumlah project sudah menanti,” pungkasnya mengakhiri. (varia)