Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat memiliki dampak ekonomi yang cukup besar. Salah satunya, bisnis food and beverage. Seperti terlihat di beberapa pusat perbelanjaan di Surabaya yang sepi sejak penerapan ppkm ini. hal ini menjadi pukulan bagi pelaku bisnis makanan yang mencoba bertahan disaat pandemi.

Sejak munculnya pandemi Covid-19, banyak sektor yang terdampak hingga mengakibatkan perekonomian turun. Salah satunya bisnis makanan atau food and beverage. Banyak yang akhirnya gulung tikar, namun tidak sedikit pula yang akhirnya mempu bertahan.

Pasca pembatasan sosial berskala besar, bisnis ini mulai mengalami sedikit kenaikan karena pelanggan diperbolehkan makan di tempat walaupun hanya dengan kapasitas 50 persen saja. Dimana sebelumnya Pemerintah hanya memperbolehkan buka dengan sistem delivery saat penerapan PSBB.

Namun, rasanya bisnis food and beverage kembali harus menghadapi ujian saat penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat yang mana hanya memperbolehkan mereka buka dengan kapasitas tempat duduk 25 persen.

Ketua Asosiasi Persatuan Pusat Berbelanjaan Indonesia DPD Jawa Timur/Jatim, Sutandi Purnomosidi, mengatakan, jika dalam penerapan PPKM ini bisnis yang paling terpukul adalah food and beverage. Dimana dengan kapasitas yang dikurangi tinggal 25 persen saja dan pengurangan jam operasional mall sangat berpengaruh terhadap pemasukan mereka.

Pernyataan serupa dikemukakan General Manager/GM Plaza Marina,  Fransisca Maria Budiman, dimana bisnis food and beverage khususnya yang berada di pusat perbelanjaan sangat terdampak dengan penerapan PPKM ini. Di era New Normal omzet mereka belum kembali 100 persen dikarenakan pengurangan kapasitas 50 persen, namun sekarang harus kembali dikurangi menjadi 25 persen akibat penerapan PPKM ini.

Selain itu, dalam penerapan PPKM sendiri pihak mall masih tetap memberlakukan protokol kesehatan ketat sesuai dengan aturan, seperti pengecekan suhu dan memakai masker selama berada dalam mall. (husni/stv)