Ini Ruwatan….., Selamatkan Sungai, Selamatkan Peradaban

22

Batu, (bisnissurabaya.com) – Sejak zaman dahulu, Sungai  sudah menjadi urat nadi peradaban bagi sebuah bangsa. Banyak kerajaan besar di dunia mengalami jaman keemasan dengan menjadikan sungai sebagai pusat peradaban budayanya.

Diantaranya China dengan Sungai Hwangho (Kuning), India dengan Sungai Gangga, Mesir dengan Sungai Nil, dan Mesopotamia dengan Sungai Tigris. Lalu, bagaimana dengan kerajaan di nusantara?  Di Kalimantan ada Kerajaan Kutai di Tepi Sungai Mahakam, Sriwijaya dengan Sungai Musi, dan Majapahit berjaya dengan Sungai Brantas.

Banyak bukti sejarah yang menyatakan bahwa dengan menjadikan sungai sebagai halaman depan dan pusat kegiatan ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan, berhasil menghantarkan kerajaan tersebut pada puncak keemasan.

Air, dan keragaman hayati yang ada disungai adalah modal dasar dalam membangun kejayaan peradaban, seperti halnya hutan dan gunung. Di zaman modern, manusia juga menyadari pentingnya menjaga dan mempertahankan sungai sebagai pusat peradaban.

Berbagai kegiatan dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem yang ada di sungai. Terutama mempertahankan kelangsungan debit air yang ada di sumber dan mata air sungai yang ada di puncak gunung.

Dalam rangka HUT ke-48 tahun, PDI Perjuangan melalui thema “Sungai Jalan Peradaban” mengajak masyarakat untuk menjaga sungai sebagai urat nadi kehidupan manusia. Berbagai kegiatan dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan sungai.

Antara lain, merawat sumber air, menanam pohon, membersihkan sungai, dan menebar ikan, burung. Kegiatan itu dilakukan di sungai sungai besar seperti Brantas, Bengawan Solo, Ciliwung, Musi, Batanghari, Mahakam, Kapuas, dan lain-lain.

Untuk Jatim dipusatkan di Arboretum Sumber Air Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Dewasa ini di Arboretum hanya tersisa belasan mata air, padahal pada 2009 masih terdapat lebih kurang 60 titik, dan untuk 2006 terdapat  sekitar 150 titik sumber.

“Bencana tanah longsor menyebabkan banyak mata air yang hilang,” kata Ketua Badan Kebudayaan Nasional/BKN DPD PDI Perjuangan Jawa Timur/Jatim yang juga Panitia Ruwatan Sumber Air Brantas, Onny, kepada bisnissurabaya.com, beberapa hari yang lalu.

Sungai Brantas yang mengaliri 17 Kota dan Kabupaten di Jatim, memiliki kualitas air yang berbeda. Di Arboretum kualitasnya A (Layak langsung minum), sementara di beberapa kota kabupaten lainnya memiliki kualitas B ( Dimasak dulu baru boleh diminum).

Sedangkan pada potongan Sungai Brantas yang masuk ke Surabaya, pada musim kemarau cenderung masuk kategori C ( Hanya cocok untuk ternak ). Bahkan  di beberapa tempat sudah masuk kategori D dan E.

“Kondisi ini menyebabkan banyak species  hewan air mengalami perubahan atau mutasi genetika.  Sehingga timbul jenis species baru seperti cacing tanpa mata dan lain-lain,” Jelas Koordinator Bidang Manuskrip, yang juga anggota panitia Ruwatan Sumber Kali Brantas, Nanang Sutrisno, saat mendampingi  Ketua BKN Jatim, Onny.

Daerah Aliran Sungai(DAS) Brantas menjadi penopang sekitar 60 Prosen ekonomi Jatim, dan 20 Prosen ekonomi nasional. “Bayangkan jika Arboretum Brantas rusak, maka bendungan Karangkates akan hancur. Ini pasti akan mengganggu pasokan listrik yang berdampak pada kelumpuhan ekonomi,” tambah Nanang Sutrisno.

Bagi Masyarakat Jatim, Sungai Brantas juga memiliki makna spiritual yang tinggi, sehingga menjadi alasan yang sangat tepat bagi PDI Perjuangan Jatim menggelar kegiatan ruwatan yang bernuansa kebaktian di tempat tersebut. (nanang)