Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Mahalnya harga kedelai yang berdampak pada penjualan tempe dan tahu juga pada kenaikan harga makanan khas Indonesia ini. Banyak faktor yang mempengaruhi kenaikan harga kedelai. Namun, ada sejumlah solusi yang isa mengontrol harga bahan baku tahu dan tempe.

Kenaikan harga kedelai yang merupakan bahan baku pembuatan tahu dan tempe ini sudah terjadi beberapa kali. Setidaknya dalam lima tahun terakhir, kenaikan harga kedelai terus terjadi.

Ketua Umum Yayasan Kedaulatan Pangan Nasional/YKPN Jawa Timur/Jatim, Jamhadi, mengatakan, kebutuhan kedelai di Jatim mencapai 450.000 ton. Sedangkan, supply dari hasil produk pertanian sekitar 302.000 ton. Sehingga kurang 148.000 ton, yang kemudian di import dari luar negeri seperti Amerika dan Brasil. “Kenaikan ini rupanya dipengaruhi situasi global yang dinamis, ekonomi yang terkontraksi karena adanya pandemi covid-19,” kata Jamhadi, di Surabaya Sabtu (9/1).

Selain itu, stok kedelai dunia diborong China, yang sebelumnya import dari amerika sebanyak 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Jamhadi, mengatakan, untuk mengatasi hal ini perlu adanya kerjasama dari sejumlah pihak.

Menurut dia, masyarakat mesti membiasakan diri untuk mengkonsumsi makanan sejenis tahu dan tempe yang memiliki asupan nutrisi yang sama. Sedangkan dari para ahli dan akademisi bisa hadir dengan melibatkan hasil riset pertanian, dengan bibit unggul dan pola tanam.

Sehingga, dengan lahan pertanian yang cenderung susut, tapi produktivitas tetap meningkat. Sehingga produksi kedelai meningkat.

Jamhadi, menambahkan, pemerintah menetapkan kebijakan lawen forcement dalam tata guna lahan pertanian, dan tata ruang yang di arahkan pembangunan dengan pola vertical development. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan kedelai secara swasembada tanpa menggantungkan import. (agung/stv)