Selama 2020, Ada 1.832 Perawat di Jatim Terpapar Corona

7

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pandemi Covid-19 menjadi bencana kemanusiaan bagi insan keperawatan di Jatim. Selama pandemi yang terjadi sejak Maret lalu, sebanyak 1.832 perawat terkonfirmasi positif. Dari jumlah tersebut, 56 perawat meninggal dunia. Ironisnya, baru 18 keluarga perawat yang menerima santunan dari kementerian kesehatan.

Dari data DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia/PPNI, Jatim, menyebutkan, ada 1.832 perawat yang terkonfirmasi positif Covid-19 selama pandemi yang tersebar di 38 kabupaten, kota di provinsi ini. Kota Surabaya masih menjadi yang terbanyak dengan 398 orang perawat. Disusul kota Malang dengan 195 orang perawat.

Dari 1.832 orang, perawat, 56 orang diantaranya meninggal dunia, dan 10 persen lainnya masih menjalani isolasi di rumah sakit. Perawat terakhir yang meninggal akibat Covid-19 ini adalah Ahmad Kurniawan, perawat RSUD Dr Mohammad Anwar Sumenep, Madura, RS TNI AL dr Ramelan Surabaya, Selasa (29/12) lalu. Ketua DPW PPNI Jatim, Prof Nursalam, mengatakan, kelelahan menjadi faktor utama banyaknya perawat yang terpapar Covid-19.

Nursalam, mengungkapkan, bulan desember menjadi puncak bencana kemanusian dengan 17 orang perawat meninggal dunia. Ironisnya, hingga akhir tahun, dari 56 orang perawat yang meninggal dunia, baru 18 orang yang menerima santunan dari kementerian kesehatan.

DPW PPNI Jatim berharap, pemerintah Provinsi Jatim, memprioritaskan 80.000 perawat untuk mendapatkan vaksin pertama kali, agar jumlah perawat yang terpapar Covid-19 tidak terus bertambah. (stady/stv)