Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Ibarat roller coaster dengan banyak guncangan, namun tetap selamat bagi yang yakin. Mungkin inilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi ekonomi tanah air sepanjang 2020. Awal tahun segenap harapan digantung tinggi dengan target pertumbuhan 5 persen ternyata sia-sia. Masuknya Covid-19 ke Indonesia untuk pertama kalinya pada awal Maret 2020 membuat seluruh target perekonomian berubah bahkan menjadi negatif hingga penghujung tahun. Awalnya publik dan pemerintah tidak terlalu peduli soal Covid 19 yang sudah muncul sejak 2019.

Alasan bahwa virus tersebut berasal dari Wuhan, Tiongkok yang berhawa dingin tidak mungkin masuk ke tanah air yang beriklim tropis. Namun apa lacur, setelah ratusan penderita terinfeksi hingga berjatuhan korban, publik sadar, virus mematikan ini menjadi rem kejut ekonomi tanah air. Dimulai kebijakan PSBB di beberapa kota yang membuat aktivitas ekonomi sempat mandeg sampai membuat IHSG jatuh di efek terendah.

Mengutip data dari Bloomberg, IHSG menyentuh level terendahnya di 3.937,63 pada 23 Maret 2020. Akibatnya tidak sampai di sana, gelombang PHK ikut menghantam dunia industri. Data dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia tercatat 6,4 juta pekerja mengalami PHK. Akibatnya daya beli mandeg dan laju ekonomi ikutan mundur. Saat itu, pertumbuhan ekonomi di kuartal II sudah minus 5,32 persen dan Indonesia masuk ke jurang resesi.

Peluang di Awal Pandemi, Untung di Ujung 2020. Namun rapor buruk di awal 2020 tak selamanya berbuntut panjang. Gema Goeyardi, MM, CFI, CFII, MEII, IGI, CAT, CWAM, CFTe, MFTA, CSA, CEO Astronacci International, menyebutkan bahwa dalam kondisi ekonomi terburuk sekalipun siapapun harus optimis. Justru dengan rasa optimis, kelesuan ekonomi di tanah air akibat pandemi bisa diatasi. Saat IHSG turun di titik terendah, justru kami menghimbau kepada publik untuk tidak panik. Karena disitulah momen mendapatkan waktu yang tepat untuk membeli perusahaan blue chips dengan harga diskon, papar Gema yang menyebut banyak yang memperoleh cuan atas rekomendasi Astronacci International, salah satunya melalui A-CLUB Academy.

Tak heran, dalam rentang waktu Maret hingga penghujung Desember, IHSG yang awalnya terperosok di angka 3.937,63 justru berbalik arah hingga nangkring di angka support 6000-6100 alias hampir naik 50 persen bisa dibandingkan mereka yang saat awal pandemi Covid 19 lebih tenang, tidak panik tentunya bisa dilihat portofolio penghujung tahun.

Tentu saja dengan memilih emiten yang tepat serta sumber yang kredibel, ungkap Gema yang sudah lebih dari 15 tahun bergelut di dunia makro ekonomi, analisis saham, komoditas mata uang dan instrumen keuangan. Selain itu, dia mengungkapkan, bahwa metode yang digunakan Astronacci International menggabungkan ilmu Financial Astrology dan Fibonacci sehingga mampu menemukan peta perjalanan harga di masa depan, termasuk tanggal naik dan turunnya harga sebelum terjadi dengan akurasi hingga 75 persen. Dengan hal tersebut meski kondisi ekonomi tanah air babak belur karena pandemic covid 19, masih tetap muncul rasa optimis.

Strategi Keuangan 2021, Simak Emiten Berikut Gema Goeyardi menyebut, justru di awal 2021 para investor, baik korporate maupun retail untuk lebih kreatif melihat setiap peluang yang ada. Berbicara peluang, tahun 2021 ada beberapa emiten yang berepeluang naik, mulai dari perbankan, properti, serta kesehatan antara lain BMRI, BBRI, BBNI, ITMG, KAEF, CPIN, ASII, ERAA, CTRA, BSDE, WIKA. Dimana sektor-sektor tersebut adalah yang cepat pulih pasca perbaikan ekonomi karena pandemi Covid 19, karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Seperti yang sudah diprediksi oleh Astronacci International sebelumnya, dengan IHSG yang sudah mencapai angka 6100 di ujung 2020, maka menjelang siklus Sun in Capricorn hingga 2021 mendatang target IHSG akan begerak di level 6400 dan 6600 adalah angka yang berpotensi ditembus. Kondisi ini juga didukung oleh serangkaian kebijakan pemerintah dengan adanya omnimbus law serta tax reform yang akan mempermudah gerak langkah pengusaha dalam berbisnis di tanah air, sehingga membuat FDI akan semakin deras.

Namun, meski rasa optimis itu ada, Gema Goeyardi, menyebutkan ada beberapa hal yang harus diwaspadai, yaitu waspada resiko mutasi Virus Covid 2020 yang dikhawatirkan berakibat lockdown massive di 2021 yang bisa menjadi rem kejut pergerakan ekonomi. Secara keseluruhan IHSG masih tetap ke arah bullish.
Kunci keuangan di tahun 2021 adalah kreatif melihat setiap peluang, tidak mudah termakan berita hoax khususnya ekonomi yang tidak jelas karena ini akan membuat ketakutan. Belajar dari mentor yang tepat agar tidak terjerumus dengan hal yang tidak jelas, apalagi investasi bodong yang menjanjikan keuntungan tidak rasional dan hanya menjual mimpi dan terekspose dengan mudah di media sosial, papar Gema tentang strategi keuangan di 2021.

Khusus investasi bodong di tahun mendatang diprediksi bakal semakin meriah, bahkan pelakunya lebih kreatif. Hal ini tentu tidak lepas dari maraknya media sosial yang akan mudah mengekspose kekayaan dan menjual mimpi. Kondisi ini dimanfaatkan betul oleh pelaku yang melihat fenomena di tengah masyarakat yang haus tentang informasi investasi. Padahal sejatinya itu adalah trik untuk mendapatkan korban lebih besar.

Akan semakin banyak orang dari antah berantah yang tidak memiliki latar belakang keilmuan yang empiris, tiba-tiba akan tampil dengan bling-bling ekspose kekayaan. Mereka akan klaim bisa sukses karena investasi ini dan itu dan menarik siapapun untuk mengikuti caranya, papar Gema yang menyebut hal itu sejatinya perangkap dengan metode mimpi dan menjurus ke fake guru. Untuk menyingkapi hal tersebut sebenarnya mudah, masyarakat harus lebih jeli melihat sebuah tawaran investasi. “Apakah investasi itu ditawarkan dengan dasar keilmuan dan penelitian empiris atau sekedar menjual mimpi. Saya optimis bahwa 2021 dengan semangat lebih kreatif dan mampu melihat peluang, kita akan lebih baik,” pungkas Gema Goeyardi yang menyebut bahwa di A-CLUB Academy yang dibidanginya sudah banyak membantu menyelamatkan publik dari investasi bodong. (bw)