Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Kasus kematian perawat di Jawa Timur/Jatim akibat terpapar Covid-19 terus terjadi. Bahkan, dalam lima hari terakhir, ada lima perawat di Jatim yang gugur setelah positif corona. DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Jawa Timur menyebut, case rate kematian perawat di Indonesia mencapai 18 persen. Angka ini, jauh diatas batas case rate dari who sebesar 5 persen.

“Faktor kelelahan dan kejenuhan menjadi penyebab perawat mudah tertular Covid-19,” kata Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia/PPNI Jatim, Nursalam, di Surabaya Senin (21/12).

Jumlah perawat di Jatim yang meninggal dunia akibat terpapar Covid-19 terus bertambah. Kali ini, seorang perawat di RS Soewandhi Surabaya, Dyah Prima Retnani, gugur setelah positif corona. Perawat Dyah, yang meninggal dunia ini sudah seminggu ini menjalani perawatan di ruang isolasi khusus. Dalam lima hari terakhir ini, ada lima perawat di Jatim yang harus menjadi korban ganasnya virus corona. Sebelumnya, Sri Hastutik, perawat puskesmas di ngawi meninggal dunia pada sabtu lalu. Disusul sehari kemudian, Martenaya Porba, perawat RSUD dr Darsono Pacitan. Bahkan, pada hari Senin (21/12) kemarin dua perawat meninggal akibat Covid. yaitu, Pujianto asal RSAL dokter Ramlan Surabaya dan perawat Devy Marthasari, asal RS Bina Sehat Jember.

Menurut Nursalam, case rate kematian perawat di Indonesia sudah mencapai 18 persen. Angka ini jauh diatas batas case rate dari WHO sebesar 5 persen. Sementara, faktor kelelahan dan kejenuhan menjadi penyebab masih banyak perawat tertular covid-19.

Kini, total sudah ada 47 perawat di Jatim yang meninggal dunia setelah terpapar Covid-19. Untuk jumlah perawat di Jatim yang positif Covid-19 selama masa pandemi ini mencapai 1.721 orang. Dari ribuan perawat yang terpapar corona ini, 20 persennya masih menjalani perawatan. Baik di rumah sakit maupun isolasi mandiri. (stady/stv)