Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – HARI masih pagi. Angin semilir terasa mengelus kulit. Di ujung jembatan, seorang pria sibuk menyemprotkan cairan disinfektan ke tangan pengunjung. Satu per satu juga dites suhu badan, menggunakan thermogun.

Aktivitas ini menjadi ritual wajib pengelola obyek wisata Pantai Cemara, Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi, Jawa Timur/Jatim. Di masa pandemi, obyek wisata ini menjadi penopang bangkitnya ekonomi warga setempat. Sembari berprofesi sebagai nelayan.

Wisata Pantai Cemara lokasinya cukup strategis. Tak jauh dari kota. Hanya 10 menit dari Kantor Pemkab Banyuwangi. Tak hanya menjadi bukti inovasi para nelayan menyelamatkan lingkungan.

Kawasan ini justru menjadi sumber ekonomi warga. Pantai yang dahulu kumuh, tak terawatt. Kini, disulap menjadi destinasi wisata menarik. Bahkan, pusat edukasi penangkaran penyu. Pandemi yang membatasi kerumunan, Pantai Cemara menjadi pilihan warga berwisata. Sebab, wisata ini sudah bersertifikat protokol kesehatan dari Satgas Covid. Dan, lokasinya sangat tepat menerapkan sosial distancing. Kawasan wisata di barat Selat Bali ini dibuka mulai 2008.
Penggagasnya Kelompok Nelayan setempat.

Berawal dari keprihatinan pantai yang kumuh dan tak terawatt. Akhirnya, kami bersama nelayan menyulap pantai Cemara ini, kata Muhammad Muhi, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Pantai Cemara, Senin (21/12) siang.
Pria yang juga tokoh nelayan ini mengisahkan KUB Pantai Rejo yang dikenal dengan Pantai Cemara dibentuk tahun 2011. Anggotanya seluruh nelayan yang menggantungkan hidup dari pesisir setempat. Awalnya sulit juga mengajak nelayan menjaga keindahan pantai. “Kami sosialisasikan melalui pengajian. Akhirnya, terbentuklah pantai cemara seperti ini,” jelasnya.

Menurut Muhi, mengubah cara pikir nelayan tidaklah mudah. Karena itu, dibutuhkan perjuangam keras agar nelayan bisa kompak bekerjasama.
Awalnya, mereka menanam 1000 pohon cemara udang di tahun 2011. Waktu itu yang sukses tumbuh hanya tersisa 25 persen, jelasnya. Selanjutnya, dilakukan penanaman kedua sebanyak 5000 pohon. Lagi-lagi, hasilnya tumbuh sekitar 25 persen. Penanaman serempak ini membuahkan hasil menggiurkan. Pantai Rejo yang dahulu kumuh, berubah cantik. Dikenal dengan Pantai Cemara. Pemandangannya memikat. Deretan cemara yang rimbun sangat cocok untuk berteduh. Termasuk, berswafoto.
Sukses menyulap pantai yang indah, para nelayan makin semangat menjadikannya obyek wisata. Mereka membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokwasmas) Pantai Rejo, tahun 2013. Sejak itu, kawasan ini menjadi obyek wisata baru di tenggara kota Banyuwangi. Kawasan ini juga menjadi andalan obyek wisata di Banyuwangi.

Kemudian, 2014, selain reboisasi cemara, para nelayan membuat pusat penyelamatan penyu. Kebetulan, kawasan ini menjadi lokasi empuk pendaratan penyu yang akan bertelur. Tahun 2014, kita mencoba menyelamatkan satu sarang dengan 100 butir. Hasilnya, menetas 89 butir, jelas Muhi. Pusat penangkaran penyu ini akhirnya menjadi pusat edukasi wisatawan. Terutama para siswa, mulai PAUD, TK hingga mahasiswa. Mereka belajar penyelamatan lingkungan dan satwa penyu yang dilindungi.

Wisatawan yang sebelumnya harus ke Sukomade (50 kilometer arah barat daya Banyuwangi) untuk melihat penyu, kini hanya tinggal ke Pantai Cemara.

Selain penyu, di lokasi disiapkan juga bibit mangrove dan pembibitan cemara. Tak hanya mengelola obyek wisata, para nelayan mengembangkan UMKM makanan berbahan mangrove. “Juruju mangrove kita olah menjadi makanan ringan hingga steak, teh celup dan sirup. Ini menambah pendapatan,” kata Muhi.

Produk UMKM para nelayan ini menjadi oleh-oleh wisatawan yang berwisata ke lokasi. Selain itu, ditawarkan juga ke sejumlah instansi pemerintah. Menurut Muhi, obyek wisata Pantai Cemara ini menjadi jawaban potensi ekonomi bagi masyarakat. Dari 21 orang nelayan yang tergabung dalam Pokwasmas setempat, tetap bisa melaut setiap hari. Setelah melaut, mereka mengelola wisata pantai. Sehingga, pendapatan ekonomi yang didapatkan menjadi ganda. Ibu-ibu nelayan membuka kuliner di tempat wisata. Jadi, penghasilannya bertambah. Saat pandemi, ini menjadi solusi di tengah ekonomi yang sulit, terang Muhi.
Setiap harinya, wisatawan yang berkunjung ke Pantai Cemara lumayan ramai. Rata-rata tembus di atas 100 orang.

Bahkan, jika akhir pekan, bisa mencapai 500 orang lebih. Wisatawan hanya dipungut tiket masuk Rp 5.000 per orang. Mereka bebas berkeliling kawasan wisata hutan cemara. Jika ingin melihat penangkaran penyu hanya menambah tiket Rp 2.000 per orang.
Musim pandemi, lanjut Muhi, animo wisatawan yang berkunjung lumayan bagus. Kebanyakan wisatawan lokal Banyuwangi. Ada juga dari kabupaten tetangga.

Seperti, Jember, Situbondo dan Bondowoso. Setiap wisatawan harus menggunakan masker ketika masuk. Dan, melewati cek suhu tubuh. Mereka juga diwajibkan menjaga jarak selama berkeliling di lokasi wisata, terangnya. Ketatnya penerapan standar protokol kesehatan, membuat Pantai Cemara diganjar sertifikat layak protokol kesehatan dari Satgas Covid Kabupaten Banyuwangi.

Jadi Kampung Nelayan Tangguh Penerapan protokol kesehatan yang ketat di kawasan wisata Pantai Cemara menarik perhatian Polresta Banyuwangi. Korps baju cokelat ini menetapkan kawasan wisata ini menjadi Kampung Nelayan Tangguh. Artinya, kawasan ini bisa menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Mereka juga mandiri dalam menangani kemungkinan penyebaran Covid. Sebab, memiliki petugas khusus yang mendeteksi potensi penularan Covid.
Selain Kampung Nelayan Tangguh, kelompok nelayan di Pantai Cemara ini mendapat penghargaan Kalpataru dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jatim. Kriterianya, para nelayan sukses melakukan penyelamatan pantai secara mandiri melalui konservasi. Nelayan membuat konservasi flora dan fauna tanpa disuruh. Ini apresiasi sekali, kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi, Chusnul Khotimah.

Pejabat ini menegaskan selama pandemi, kawasan wisata pantai ini memberikan efek ekonomi yang baik bagi nelayan. Selain tetap bisa meluat, nelayan mendapatkan penghasilan tambahan dari pengelolaan wisata. Ini inovasi yang baik untuk menopang ekonomi di masa pandemi. Namun, tetap mengedepankan protokol kesehatan, pungkas Chusnul. (wir)