Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Senyuman khas dengan pembawaan yang ramah adalah kesan pertama saat pertama kali berjumpa. Sejak 1984 hingga sekarang, lelaki ini tetap konsisten menggeluti dunia perbankan.

Bankir. Apa sih yang menarik dari profesi ini? Rasa penasaran yang memuncak membuat individu bertanya-tanya. Dengan santai, dia mengatakan, profesi bankir awalnya bukan menjadi pilihannya. Terlintas pun tidak. Menjadi seniman adalah passion dan profesi awal impiannya. Bergaul dengan banyak seniman dan pemusik di masa SMA, membuatnya tertarik untuk memilih profesi itu pada awalnya.

Apalagi ditunjang dengan beberapa prestasinya di bidang seni. Seperti menjadi juara dalam lomba melukis se-Kodya Malang dan antar perguruan tinggi se-Kopertis Jawa Timur/Jatim di masa mudanya. Hal itu semakin memantapkan gambaran profesi yang ingin dijalani sosok, FY Ruddy Prihananto MBA, MM.
Ruddy, dikenal sebagai seorang Bankir, Management Consultant, Professional Trainer, serta Praktisi Bisnis.

Seiring dengan berjalannya waktu, ketertarikan pada dunia perbankan mulai tumbuh saat lulus kuliah. Setelah lulus dan diterima bekerja di salah satu bank swasta, hal ini semakin memantapkan hatinya untuk mulai mencoba berkarir di dunia perbankan. Tak disangka, berbekal kemampuan komunikasi dan ilmu pengetahuan yang didapatnya pada masa kuliah dulu, mampu mempermudah usahanya dalam membangun relationship dengan nasabah. Baginya, tantangan di dunia perbankan bukan sekedar menaklukkan nasabah. Namun, lebih pada kepuasan batin dalam membantu nasabah untuk mengelola asetnya agar lebih produktif. Apalagi ketika yang dibantu menjadi semakin sejahtera dan mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam bisnisnya. Hal ini menjadi sebuah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri. Jika berkaca dari profesi awal impian masa mudanya, menurut Ruddy, profesi bankir sebenarnya hampir sama dengan seniman. Dunia marketing perbankan juga butuh sentuhan bak Seni. Terkadang butuh, improvisasi yang baik dan cermat asal tidak keluar jalur. Tata kelola bank sudah diatur melalui UU Perbankan yg digawangi Bank Indonesia. Sedangkan, Otoritas Jasa Keuangan/OJK bertugas mengatur sendi kehidupan perbankan secara internal dan eksternal. Semua ada pakemnya seperti layaknya bermusik.

Namun, sekali lagi semua tetap kembali pada Trust. Satu kata “mahal” yang menjadi dasar kelangsungan hidup bisnis perbankan. Sekalinya itu lenyap, reputasi ikut runtuh dan sulit terpulihkan.

Banyaknya kasus penggelapan dana nasabah oleh oknum perbankan yang marak terjadi akhir-akhir ini menjadi ujian profesionalitas bank sebagai lembaga kepercayaan penerima dana masyarakat. Hal inilah yang menjadi perhatian utama pria yang memulai awal karirnya di dunia perbankan di Probolinggo. Menurut dia, kasus penggelapan dana nasabah oleh oknum perbankan adalah suatu hal yang sangat memprihatinkan. Jika untuk nasabah ada istilah Know Your Customer (KYC) yang bertujuan untuk mencocokkan profil usaha dengan transaksi dan operasional usahanya agar tidak melenceng pada Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Terorisme, maka untuk bidang SDM juga ada istilah Know Your Employee (KYE) yang bertujuan untuk mengetahui sifat, perubahan perilaku, dan gaya hidup karyawan agar tidak terjadi Fraud atau kejahatan perbankan. Ketika KYE benar-benar dilaksanakan secara cermat bersamaan dengan SOP dan security system perbankan yang ketat, maka resiko kejahatan di dunia perbankan bisa diminimalisir.

Profesi sebagai seorang bankir sekaligus mengantarkannya juga menjadi seorang
konsultan manajemen dan professional trainer bagi para nasabah dan relasinya yang lain. Terutama para pelaku UMKM bidang pertanian yang ada di wilayah kerjanya. Menurut dia, para UMKM ini membutuhkan binaan dan sentuhan manajemen yang lebih tertata agar bisa mengoptimalkan usahanya secara berkesinambungan.

Peran pemerintah dan perbankan daerah sangat dibutuhkan untuk bisa mendorong terciptanya industrialisasi dibidang UMKM. Sehingga produktivitas mereka semakin meningkat sejalan dengan perolehan margin yang tinggi.

Dengan jabatannya saat ini sebagai seorang komisaris di sebuah bank swasta daerah di kota Lumajang dan Probolinggo, tak membuatnya lupa akan besarnya peran dan dukungan keluarga. Istri dan anak-anak tercinta menjadi penyemangat hidup yang membuatnya semakin mencintai profesi bankir. Profesi ini diyakini bisa menjadi tumpuan hidup bukan karena untuk mengejar kepentingan duniawi, namun, lebih pada kebahagiaan dalam bekerja. Membina hubungan baik, menjadi teman curhat nasabah, menjaga kepercayaan, dan bisa membawa manfaat yang positif bagi nasabah serta organisasi, merupakan hal mendasar yang bisa membuatnya bahagia berprofesi sebagai bankir. Menurutnya semua yang datang merupakan buah dari menjalani proses hidup. Diawali dengan bekerja keras, jujur, berintegritas, dan berdedikasi. “Profesi ini bukanlah tidak sesuai dengan passion di awal, tapi lebih tepat jika disebut terjerumus ke jalan yang benar,” kata Ruddy, kepada bisnissurabaya.com, di Surabaya Kamis (3/12). (varia)