Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Layak dicontoh. Ungkapan yang tepat bagi pasangan suami istri (pasutri) difabel di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ini. Meski memiliki kekurangan fisik, mereka tetap patuh dengan aturan. Di masa pandemi, keduanya yang berjualan minuman alpukat kocok  tetap menerapkan protokol kesehatan.

Menggunakan masker saat berjualan dan menjaga jarak dengan pembeli. Tak hanya itu, mereka juga menyediakan cairan hand sanitizer di rombong jualan. Pasutri hebat itu, Suyono (43) dan Eliana (43), warga Lingkungan Gentengan, Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Banyuwangi.

Karena pandemi, keduanya memilih berjualan minuman buah di pinggir Jalan Bengawan, Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi. Hanya beberapa ratus meter dari rumah keduanya. Menjual alpukat kocok adalah pilihan. Sebelumnya, sang suami, Suyono berjualan keripik singkong rasa-rasa ke sekolah-sekolah. Akibat pandemi, sekolah libur. Siswa belajar dari rumah. Imbasnya, penjualan sepi.

Akhirnya, sejak sebulan terakhir, Suyono memutuskan berjualan alpukat kocok. Ide itu didapat dari salah satu kerabatnya di Surabaya. “Karena jualan ke sekolah tidak bisa lagi akibat pandemi. Akhirnya, jualan minuman ini di pinggir jalan,” kata Suyono melalui penerjemah Alfian Krisna, Kamis (3/12) siang.

Banting stir jualan akibat pandemi, butuh perjuangan keras. Suyono harus menguras tabungan dan menjual motor untuk membuka lapak barunya. “Modalnya sekitar Rp 4 juta. Dari tabungan dan jual motor,” jelasnya.

Karena pandemi, hasil jualan Suyono juga tak maksimal. Sehari, rata-rata hanya Rp 200.000. Pendapatan ini masih kotor. Belum dipotong modal dan sewa listrik. Satu gelas minuman buah dihargai Rp 10.000. Untuk memberikan tanda yang berjualan adalah difabel, Suyono memasang tulisan di atas lapaknya.

Dia berjualan mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Lokasinya persis di pinggir jalan raya.Meski difabel, Suyono tak pernah membuka masker saat berjualan. Pun dengan istrinya. Dia juga selalu menyemprotkan cairan disinfektan usai menerima uang pembayaran.

Pandemi dengan penghasilan minim, tak membuat Suyono menyerah. Apalagi, dia butuh biaya sekolah kedua anaknya yang duduk di bangku SMK dan SD. Dia berharap, pandemi segera berakhir. Sehingga, bisa berjualan keliling lagi. Di hari difabel internasional, dia mengajak para difabel tetap semangat menghadapi cobaan di musim pandemi. (wir)