Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Aksi sosial donor darah di Surabaya tak lepas dari tangan orang ini. Dialah, Totok Sudarto, yang dikenal sebagai penggerak donor darah. Selama satu decade (2012-2018) terkumpul 72.000 bag. Tak berlebihan, bila lembaga yang dipimpin Jaya Suprana, memberikan penghargaan MURI kepada Totok, sebagai motor penggerak donor darah. Bagaimana cara lelaki yang berusia 64 tahun ini mampu meyakinkan masyarakat mau mengadakan donor darah?

Lelaki yang terbilang sederhana ini nampaknya sangat peduli dengan darah. Sebagai seorang penggerak donor darah, Totok, tak mau berpangku tangan untuk mendapatkan darah. Ia rela jemput bola agar masyarakat mau mengadakan donor darah. Selain, harus meyakinkan masyarakat agar mau mengadakan donor darah, dia juga berupaya mencari donatur untuk acara donor darah.

‘’Awalnya, sangat sulit mendapatkan sponsor,’’ kata Totok Sudarto, kepada bisnissurabaya.com disela-sela pelaksanaan donor darah di Masjid Assakiinah Putra Bangsa Surabaya Selasa (1/12). Sebab, pelaksanaan donor darah akan ramai apabila ada donatur atau sponsor yang ikut meramaikan acara tersebut.

Karena itu, ia sangat respek terhadap Masjid Assakiinah Putra Bangsa ini yang akan menggelar acara donor darah setiap tiga bulan sekali. Setiap tahun, kata dia, rata-rata mendapatkan 12.000 bag darah dari ratusan kegiatan. Misalnya, pada 2019, Totok, dapat menyelenggarakan 136 kali kegiatan donor darah yang menghasilkan 12.052 bag darah.

Memasuki 2020, khususnya Januari – Februari, menurut Totok, kegiatan masih berjalan normal. Rata-rata setiap bulan mendapatkan 1.000 bag darah. Namun, memasuki Maret dimana wabah corona mulai merebak, dia memastikan kegiatan donor darah tetap jalan.

Sebagai penggerak donor darah Totok, berontak dengan tetap menggelar donor darah dengan menyiapkan protocol kesehatan di Taman Bungkul Surabaya. Bahkan, aksi sosialnya itu diberi nama ‘Gerakan Donor Darah Melawan Covid-19’. Hanya saja, dua mobil yang biasanya berisi empat bag dibuat dua bag.

Saat itu, menurut dia, pelaksanaan donor darah sudah menerapkan protokol kesehatan. Misalnya, petugas menggunakan jas hujan karena pakian hazmat masih langka. ‘’Meski dilarang, saya tetap menggelar donor darah,’’ kilah Totok, yang tercatat sebagai Dewan Kehormatan PMI Surabaya. Karena itu, gerakan donor darah melawan covid-19 tersebut mendapat perhatian khusus dari Dinas Kesehatan dan satgas dengan memantau kegiatan tersebut.

Meski di tengah pandemi, menurut dia, kegiatan donor darah tetap berjalan. Hanya saja, pelaksanaannya dengan protokol kesehatan yang ketat. Dan hingga akhir November lalu, dirinya tetap optimis 12.000 bag darah tetap bisa didapat.

Pada bagian lain, Totok, bercerita dirinya melaksanakan kegiatan sosial-kemanusiaan itu sejak masih menjadi anggota Rotary Club Surabaya Jembatan Merah. Saat itu, dia diberi mandat untuk mengadakan kegiatan kemanusiaan. “Mulai saat itulah saya berkecimpung dalam kegiatan donor darah. Saat itu pendonornya sekitar 100 orang. Lumayan,” ucapnya sambil menjelaskan pada dasarnya dirinya menyukai kegiatan sosial-kemanusiaan.

Kegiatan donor darah itu, kemudian diadakan rutin bersama teman-temannya di komunitas karaoke, Harmonis Karaoke Club. Saat merintis berbagai kegiatan donor darah, Totok sulit mencari sponsor. “Dulu sampai ditolak-tolak sponsor,” tuturnya. Namun, kini banyak sponsor yang menghubunginya untuk mendukung kegiatan donor darah.

Totok mengatakan sejak kecil memang menyukai kegiatan-kegiatan sosial. Dia pun senang bergaul dengan banyak teman. ”Inilah yang membuat saya merasa dimudahkan dalam setiap kegiatan donor darah yang saya adakan. Saya harus bisa setiap hari mendapatkan satu teman baru,” jelasnya. Namun, di balik semangatnya menolong sesama, ada hal lain yang membuat Totok, ingin terus melaksanakan kegiatan donor darah.

Sudah banyak sponsor tidak berarti Totok juga bakal mendapatkan bagian dari sponsor itu. “Teman-teman mengira saya banyak uang karena sekarang sudah banyak sponsor, tapi kenyataannya tidak,” papar pria yang beralamat di Jalan Darmo Permai itu. Dia mengaku sering tombok uang. Sebab, terkadang ada saja uang yang harus dikeluarkan untuk menyukseskan acara itu.

Meskipun sudah sering melaksanakan kegiatan donor darah, Totok mengatakan belum pernah berhasil mendonorkan darahnya untuk orang lain. Sebab, dia didiagnosis menderita penyakit hepatitis B sejak 1998. “Orang yang sakit hepatitis B tidak bisa mendonorkan darah untuk orang lain karena bisa menyebarkan virus. Padahal, saya ingin sekali bisa mendonorkan darah,” katanya. (bw)