Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Musim hujan sudah mulai mengguyur kota metropolitan Surabaya. Datangnya musim hujan diharapkan dapat menyejukkan suasana yang selama ini panas, gerah yang disertai debu berterbangan yang diakibatkan polusi udara. Namun, hujan nampaknya tidak merubah suasana menjadi sejuk ataupun dingin. Kira-kira apa ya….., penyebabnya ?

Hhhhmmmm….., ternyata Pilkada yang membuat suasana surabaya tak berubah. Bahkan, lebih panas dan gerah…!! Pilkada serentak 2020 sudah dimulai. Masing-masing kontestan atau bakal calon sudah menyiapkan strategi politiknya demi mencapai kemenangan.

Suksesi Kepemimpinan
Sebentar lagi, 9 Desember warga Surabaya akan memilih pemimpin baru untuk kepemimpinan 5 tahun kedepan. Suksesi dalam pengertiannya dipandang sebagai proses perubahan sosial politik dalam pengertian yang luas. Suksesi, politik sendiri memiliki kaitan yang erat dengan krisis legitimasi, bentuk konkrit dari hal ini adalah fenomena penurunan kepercayaan rakyat terhadap suatu pemimpin bisa berdampak pada perubahan politik. Yang dimaksud dengan legitimasi disini adalah legitimasi dari pemerintahan yang sebelumnya.

Pemilu dalam hal Pilkada merupakan sarana proses dalam demokrasi. Dimana dalam demokrasi dibutuhkan keterlibatan masyarakat untuk berpartisipasi. Partisipasi masyarakat dalam menentukan pilihan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (luber dan jurdil), merupakan syarat mutlak bagi suksesnya pesta demokrasi. Para pemegang kedaulatan tersebut menjadi jembatan terwujudnya pimpinan yang kuat, berkualitas, dapat dipercaya serta mampu menjadikan fungsi tercapainya tujuan. Sebab, partisipasi masyarakat dalam berdemokrasi, sejatinya budaya di Indonesia yang sudah mengakar sejak era pergerakan sampai perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Prinsip demokrasi menekankan partisipasi masyarakat, derajat kompetisi yang sehat, keterwakilan yang semakin kuat dan dapat dipertanggung jawabkan. Selama ini, setiap menjelang penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan, hanya peserta Pemilu dan calon saja yang menonjol. Sebagian kecil masyarakat berperan sebagai tim sukses atau simpatisan. Sedangkan sebagian besar sebagai hanya penikmat atau penonton proses demokrasi itu sendiri.

Selama ini, sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa proses politik dengan segala pernik dan dinamikanya, bukan urusan mereka. Melainkan urusan pemerintah, partai politik peserta pemilu, dan calonnya. Dalam benak masyarakat, tersirat siapapun yang menjadi pemenang dalam proses demokrasi politik tidak berpengaruh atau berdampak terhadap kehidupan mereka. Padahal, menurut Aristoteles, politik merupakan usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Tentu saja, semua pihak harus terlibat dalam proses pendidikan politik. Baik partai politik, pemerintah dan masyarakat sendiri.Tidak hanya itu, politik juga harus dimaknai sebagai investasi jangka panjang. Out put-nya pembangunan perbaikan sesuai kondisi dan tuntutan zaman. Dalam konteks ini, generasi muda menjadi pilar utama untuk ikut berpartisipasi dalam membangun negeri ini. Terutama hal suksesi pembangunan politik lokal yang dinamis, bermartabat dan berperikemanusiaan.

Politik Propaganda dalam Pilkada Surabaya

Dalam proses demokrasi, tujuan agar tercapainya kedaulatan, sepenuhnya dibutuhkan peran serta atau partisipasi masyarakat. Sebab keterlibatan masyarakat dijadikan atau sebagai tolak ukur keberhasilan dalam berdemokrasi. Harapan untuk perubahan yang lebih baik sebagai perjuangan bersama akan cepat dicapai. Visi dan misi dari masing-masing bakal calon adalah referensi bagi masyarakat untuk menjatuhkan pilhan dalam pilkada. Strategi dan metode tim sukses tercurahkan untuk meraih kemenangan bagi calonnya. Tidak jarang, dalam praktiknya, bahkan sengaja melanggar dan menabrak peraturan kampanye dalam pemilu ataupun pilkada. Isu dan janji politik saling beriringan untuk meraih simpati dari pemilih. Berita hoax, bahkan komunikasi propaganda dijadikan senjata untuk menjatuhkan lawan politiknya.

Propaganda, suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari penerima/komunikan sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator (Sastropoetro,1991;34). Sedangkan, menurut Laswell (1927), propaganda adalah pengontrol bagi opini publik yang menjadi sasaran propaganda. Penggunaan istilah propaganda kini banyak dihindarkan, tetapi sebagai metode komunikasi tetap dilancarkan. Sebagai contoh kampanye di Surabaya banyak banner-banner bakal calon yang pesan tulisannya bersifat propaganda. Bahkan, provokatif. Adapun banner lainnya yang disampaikan berupa pesan kritik, solusi dan harapan. Ini semua bagian dari mencari dukungan dan simpati dari masyarakat. Sangat disayangkan, komunikasi yang dibangun oleh Wali Kota Risma dalam perhelatan pilkada, cenderung bersifat dramatis dan provokatif. Ini dapat dilihat dari pesan yang disampaikan lewat banner kampanye dari salah satu calon yang didukungnya. Kalimat “Surabaya akan hancur dan rusak” jika tidak memilih calon yang didukungnya, ada lagi tulisan “Bela bu Risma, Selamatkan Surabaya”, itu semua adalah bentuk pesan propaganda yang dibangun agar masyarakat memilih sesuai dengan harapannya bu Risma. Namun, perlu diingat, bahwa tulisan ataupun pesan yang disampaikan itu adalah tidak benar adanya. Bahkan, sebaliknya yang ada hanya kebohongan publik.

Jadi Pemilih Cerdas

Suksesnya pemilu ataupun pilkada ditentukan oleh peran serta atau partisipasi masyarakat disaat kampanye atau kehadiran saat melakukan pencoblosan di TPS. Jatuhkan pilihan kepada salah satu calon saat mencoblos, memiliki konsekuensi politik 5 tahun kedepan. Karena pilihan kita adalah menentukan perjalanan pemerintahan di Surabaya. Baik dan buruknya, lahirnya pemimpin nanti kita sendirilah yang tentukan. Mari, kita masyarakat Surabaya memilih calon pemimpin dengan kemantapan hati dan rasa rasionalitas yang ada, tanpa ada intervensi dan rasa irasional. Nasib Surabaya kedepan ditentukan oleh kita sendiri tanggal 9 Desember 2020. Jatuhkan, pilihan calon pemimpin kita yang dapat memberikan perubahan baru untuk kota Surabaya tercinta. Mari, jangan kita korbankan Surabaya kepada orang-orang ambisius yang membabi buta. Suksesi dalam demokrasi disebutkan adalah sebuah proses pergantian pemimpin bukan penerus pemimpin. Kalimat pergantian dan penerus memiliki arti yang berbeda. jika pergantian adalah bagian dari proses demokratisasi. Sedangkan penerus memiliki arti kekuasaan yang absolut terhadap pemerintahannya.

Mari kita warga Surabaya, lebih cerdas dalam memilih agar tidak terjebak dalam penyesalan… Salam Demokrasi, Salam Perubahan….. (Mas’ud Hakim, M.Si, Wakil Ketua Partai Golkar Kota Surabaya)