Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Masa pandemi Covid tak menyurutkan kinerja DPRD Banyuwangi. Salah satunya, reses. Kegiatan turun ke daerah pemilihan (dapil) anggota Dewan ini dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Seluruh peserta wajib bermasker. Undangan dibatasi. Tujuannya, tetap menjaga jarak.

Meski undangan dibatasi, tak mengurangi komunikasi DPRD dan masyarakat. Seperti reses yang dilakukan anggota DPRD Banyuwangi, Ratih Nurhayati. Anggota Komisi III ini menggelar reses di dua titik. Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu dan Desa Kebunrejo, Kecamatan Kalibaru. Di dua tempat ini, politisi NasDem tersebut menyerap berbagai aspirasi warga.

“Pandemi, kinerja Dewan tetap jalan terus. Reses kita lakukan dengan protokol kesehatan yang ketat,” kata Ratih, panggilan akrabnya, Rabu (18/11) pagi. Menurutnya, reses menjadi tugas wajib bagi DPRD setiap tahun. Karena itu, meski pandemi, reses tetap dilakukan. Namun, modelnya dibuat beda.

Peserta dibatasi. Ketika acara, wajib bermasker, mencuci tangan dan saling menjaga jarak. “Kita juga tidak bersalaman, cukup salam tangan saja,” tegasnya. Selama reses, para peserta tetap diberikan kesempatan mengajukan usulan dan aspirasi. Sebab, dari aspirasi ini yang akan menjadi bahan Dewan melakukan pembahasan kebijakan di gedung DPRD.

Dari dua lokasi reses, lanjut Ratih, usulan yang disampaikan masyarakat cukup beragam. Selain infrastruktur, masyarakat mulai cerdas dengan mengusulkan program pemberdayaan. Terutama, pemberdayaan pasca-pandemi. Seperti, mencetak UMKM dan penguatan potensi desa.

“Pandemi ini, kondisi ekonomi secara makro sangat terganggu. Nah, desa yang bisa menjadi penopang ekonomi pasca-pandemi. Karena, desa memiliki banyak potensi,” jelasnya. Pihaknya berharap, penguatan ekonomi dari desa bisa digerakkan bersama masyarakat. Sehingga, pasca-pandemi, kondisi ekonomi bisa segera pulih. (wir)