Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Komisi Pemilihan Umum Daerah/KPUD Banyuwangi, bekerja ekstra keras mensukseskan pemilihan Bupati/Pilbup di musim pandemi. Selain wajib mematuhi protokol kesehatan (prokes), lembaga ini ditargetkan mendongkrak partisipasi pemilih.

Tak tanggung-tanggung, partisipasi pemilih ditargetkan naik hingga 77,5 persen. Naik sekitar 12 persen dari Pilkada 2015.
Ketua KPUD Banyuwangi, Dwi Anggraeni, mengatakan, naiknya target partisipasi pemilih merupakan amanat nasional. Meski pandemi, kata dia, target partisipasi masyarakat menyalurkan hak pilih tetap ditarget naik.

“Naiknya lumayan. Ini tantangan untuk kita semua. Yang jelas, masa pandemi, kami melakukan seluruh tahapan pilkada berstandar protokol kesehatan,” kata
Dwi kepada wartawan, Jumat (13/11) sore.

Menurut dia, pihaknya sudah melakukan berbagai langkah untuk mencapai target naiknya partisipasi pemilih. Salah satunya, dengan menggandeng Relawan Demokrasi (Relasi) untuk memberikan sosialisasai terkait pilkada.

Lalu, mekanisme pencoblosan dibuat berbeda. Seperti, seluruh petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) wajib menjalani rapid tes.
“Rapid tes akan digelar 14 hari sebelum pemungutan suara. Jadi, seluruh petugas KPPS benar-benar bebas Covid ketika bertugas,” jelasnya.

Langkah ini, kata dia, untuk memberikan jaminan keamanan kesehatan kepada pemilih. Sebab, lanjut Anggraini, banyak masyarakat yang kemungkinan enggan ke TPS lantaran khawatir Covid.
Karena itu, pihaknya meminta masyarakat tak khawatir datang ke TPS ketika pemungutan suara.

Sebab, protokol kesehatan sudah dijalankan dengan baik pada setiap TPS. “Di TPS, kami siapkan cuci tangan, cek suhu, sarung tangan plastik hingga tinta tetes. Sehingga, tak ada kontak langsung antara petugas KPPS dengan pemilih,” pungkasnya. (wir)