Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Rencana umroh yang disiapkan setahun, mendadak batal. Usaha travel yang menjadi tumpuan keluarga nyaris kolaps. Kenyataan ini menjadi pil pahit yang dirasakan Rohimah tahun ini. Akibat pandemi, impian ke Tanah Suci Mekkah bersama keluarga harus tertunda. Usaha travel yang digeluti sepuluh tahun silam.

Hanya hitungan minggu, mandek total. Tak ada tamu, pesanan tiket menghilang. Kondisi terpuruk tak membuat wanita empat anak ini menyerah. Justru, bangkit dengan cepat. Hebatnya, warga Dusun Pucangsari, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur itu tak bangkit sendirian.

Dia mengajak warga di sekitar rumahnya menjadi kreatif. Mereka diberdayakan menanam anggrek dengan sistem kemitraan. Memilih budidaya anggrek bukan tanpa alasan. Selain hobi, pasar komoditi ini terbuka lebar. Cuaca di desanya juga cocok.

“Awalnya sempat bingung ketika usaha travel mulai sepi, tidak ada pesanan tiket. Tapi, kita tidak boleh menyerah. Akhirnya, banting stir budidaya anggrek sejak pandemi Covid,” kata Rohimah mengawali perbincangan dengan bisnissurabaya.com,  Sabtu (31/10) lalu.

Pandemi Covid-19, kata Rohimah, membuat usahanya kalang kabut. Sebelum pandemi, usaha travel yang dikelola sejak tahun 2010 itu cukup menggiurkan. Omzetnya Rp 200 juta per bulan, terkadang lebih. Begitu pandemi, pemasukan nol besar.

Padahal, beaya hidup jalan terus. Belum lagi gaji karyawan yang berjumlah lima orang. Tak ingin melakukan pemutusan kerja, wanita 41 tahun ini memutar otak. Bersama sang suami, Dr. Umar Said (54), dia memutuskan membuka budidaya anggrek.

Lokasinya dipilih di sekitar rumahnya. Letaknya persis di kaki Gunung Raung. Udaranya sejuk, lahannya subur. Pasokan air melimpah. Tak ingin bangkit sendirian. Rohimah mengajak warga di sekitar rumahnya ikut kreatif.

“Di sini banyak warga yang terkena PHK dari Bali. Kemudian, kami tawari budidaya anggrek ini,” jelasnya. Membuka budidaya anggrek, modalnya tak sedikit. Sekitar Rp 200 juta. Meski begitu, Rohimah tak patah semangat. Berbekal dana tabungan, dia memulai usaha barunya.

Selain keluarga, warga di sekitar dijadikan karyawan. Ada 10 orang yang dipekerjakan harian. Di samping rumah, Rohimah membangun green house. Luasnya 2000 meter persegi. Cukup luas bagi kalangan petani pemula.

Selain karyawan harian, Rohimah menggerakkan para tetangga menekuni budidaya anggrek. Konsepnya kemitraan. Dari Rohimah, bibit anggrek berumur 3 bulan disebar ke warga. Per bibit dihargai Rp 20.000.

Nantinya, anggrek ini diambil lagi Rohimah setelah umur 7 bulan. Harga naik menjadi Rp 40.000. “Jadi, warga hanya modal tenaga. Tempat bisa diatur di sekitar rumah,” kata Rohimah. Konsep kemitraan ini, kata dia, membantu warga yang kehilangan pekerjaan.

Bisa juga menambah penghasilan keluarga. Rata-rata, swarga mengambil bibit hingga 100 batang. Sebelum menjadi mitra, Rohimah memberikan pelatihan ke warga. Materinya, seputar perawatan anggrek. Mereka diajari secara detail. Mulai memilah benih, menanam di media tanam hingga perawatan harian.

Tujuannya, benih yang disebar akan benar-benar tumbuh. Bisa panen bersamaan. Meski baru, warga yang tertarik menjadi mitra cukup banyak. Ada sekitar 10 orang. Jika ditotal, ada sekitar 1000 benih anggrek yang sudah di tangan mitra.

Rohimah berharap, kemitraan ini menjadi solusi ekonomi bagi para tetangga. Apalagi, permintaan bunga anggrek cukup bagus. Musim pandemi, kata dia, permintaan datang dari berbagai kota. Termasuk, lokal Banyuwangi. Karena itu, pihaknya optimis, dengan anggrek, warga bisa diberdayakan. Sehingga memiliki penghasilan.

“Miris melihat warga kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Semoga dengan budidaya anggrek bisa mendapatkan penghasilan,” lanjutnya. Selain pasar yang bagus, menurut Rohimah, bunga anggrek tak mengenal zaman. Artinya, kapan pun, bunga anggrek tetap disukai.

Apalagi, dengan perkembangan pariwisata di Banyuwangi. Banyak hotel yang membutuhkan hiasan anggrek. Untuk memperbanyak warga yang menjadi mitra, Rohimah terus memperluas green house miliknya.

Rencananya, diperluas hingga 3 hektar. Dia berharap, desanya bisa dikenal menjadi kampung anggrek. Sehingga, bisa menarik wisatawan. Apalagi, alam di sekitar desanya tak kalah menarik. Hamparan sawah, deretan gunung dan hawa yang sejuk. “Pariwisata Banyuwangi sudah mulai tumbuh. Kami ingin mengajak warga untuk membangkitkan pariwisata berbasis desa dengan industri anggrek ini,” tegas pengajar pariwisata di SMKN 1 Banyuwangi ini.

Kembangkan

Memberdayakan masyarakat bertanam anggrek, bukan sekadar mengejar ekonomi. Rohimah melihat desanya menyimpan banyak spesies anggrek, terutama anggrek gunung. Potensi ini membuatnya tertantang untuk mengembangkannya.

Kebetulan, desanya hanya beberapa kilometer dari puncak Gunung Raung. Sehingga, warga banyak yang bertani di lereng gunung. “Saya lihat di sekitar lereng gunung banyak anggrek. Ternyata, ada sekitar 100 spesies dengan 27 varian. Ini layak dikembangkan,” ujarnya.

Dengan melibatkan masyarakat desa hutan, Rohimah mulai mengkoleksi berbagai spesies anggrek khas Gunung Raung. Salah satunya, makropilum. Tanaman ini, kata dia, hanya ada di sekitar lereng Raung. Dia berharap, selain memberdayakan warga, rumah anggrek miliknya akan menjadi pusat edukasi anggrek.

Muaranya, bisa mendatangkan wisatawan ke desa. “Kami juga membuka pelatihan bertanam anggrek. Lalu, jual beli anggrek hingga jasa rehab anggrek,” jelas pemilik Raung Orchid ini. Rohimah mengaku sudah memiliki banyak pesanan dari luar kota. Seperti Surabaya dan Jakarta.

Selain kampung anggrek, dia bercita-cita membuat museum anggrek. Sehingga, masyarakat bisa melihat langsung liku-liku budidaya anggrek. Bahkan, wisatawan bisa belajar bertanam anggrek. Lalu, pulang membawa oleh-oleh bunga anggrek. Jika impian ini terwujud, desanya akan menjadi jujugan wisatawan. (wir)