Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Wabah corona memukul sendi kehidupan. Terutama pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah/UMKM yang sangat merasakan dampaknya. Tetapi, ada juga UMKM bisa bertahan dan justru menjadi penopang hidup keluarga meskipun dilakukan dalam satu keluarga. Misalnya, Cak Yudi, pedagang nasi bungkus/nasbung yang sehari-hari berjualan di pinggir Jalan Joyoboyo Surabaya.

Setiap hari pukul 05.15 WIB, Yudi, dengan membawa nasbung sekitar 50-70 bungkus nasi yang dibanderol Rp 6.000-an ini harus sudang nongkrong di pinggir jalan untuk menunggu pembeli. Sebagian besar konsumennya adalah karyawan atau anggota TNI/Polri yang akan berangkat kerja ke kantor. ‘’Karena harga murah, pukul 08.00 WIB nasbung sudah ludes,’’ kata Cak Yudi, kepada bisnissurabaya.com di Surabaya Kamis (5/11).

Meski nasbung harganya Rp 6.000 per bungkus, namun, pelanggannya merasa puas karena masakannya lumayan enak dan gurih. Padahal, nasbung hanya menawarkan menu, nasi dengan ikan tongkol, sambal. Ati, sayur buncis plus sambal, telor ceplok, telor dadar, bali ayam, bali telur, iwak teri, nasi goreng. ‘’Semua paket nasi plus ikan, sayur buncis dan sambal,’’ ujarnya.

Usaha nasbung yang ditekuni Cak Yudi, sejak April 2019 jauh sebelum merebaknya wabah corona. Pada awal bisnis nasbung, bapak tiga anak sempat frustasi karena satu bulan pertama mengalami kerugian sekitar Rp 3 juta. Sebab, nasbung yang bawa hanya sekitar 10 hingga 20 bungkus. Tetapi, sebagian besar tidak laku.

Karena tidak laku, menurut Yudi, nasbung tersebut akhirnya dibagi-bagikan kepada para tetangganya. Namun, suami dari Sri Wahyuni, tidak putus asa. Akhirnya, bulan kedua dagangannya mulai dibeli konsumen yang akan berangkat ke kantor hingga kini. Bahkan, setiap hari Jum’at dia mengaku, menjual 130 nasbung.

Sebelum memutuskan usaha nasi bungkus, Cak Yudi, pernah bekerja pada perusahaan leasing. Namun, pada 2016, perusahaan leasing akhirnya bangkrut dan tutup. Karena binggung tidak ada pekerjaan lagi, dia, memiliki inisiatif dengan menjadi pengemudi grab. ‘’Saya membeli mobil ini dengan uang muka Rp 40 juta dengan cicilan Rp 4 juta per bulan,’’ ceritanya,

Ketika mengawali ngegrab, dia bisa mengantongi keuntungan bersih Rp 300.000 per hari. Sehingga mampu membayar cicilan mobil Rp 4 juta per bulan. Namun, ternyata menjadi pengemudi grab semakin hari menjadi lesu. Saat mengantar penumpang grab inilah, Yudi, sambil mempelajari pasar dan jalan raya untuk membuka usaha sambilan.

Ada tiga usaha yang saya pelajari sekaligus menjajagi pasar selama satu tahun. Yakni, membuka usaha cuci mobil, warung kopi dan nasi bungkus. Setelah menemukan pasar dan yakin, akhirnya Yudi, memutuskan untuk berjualan nasi bungkus di pinggir Jalan Joyoboyo Surabaya sejak April 2019. ‘’Alhamdulillah, berkat usaha nasbung ini kehidupan ekonomi rumah tangga saya hidup kembali meski corona merebak. Sebab, saya juga tetap ngegrab setelah jualan nasbung habis,’’ kilahnya.

Sehari-hari, istinya Sri Wahyuni, yang memasak menu nasbung. Sedangkan dirinya bertindak sebagai penjual nasbung yang ditaruh dibagasi mobil Avansa yang dibuka keatas. Dengan modal hanya Rp 200.000 per hari, istrinya dapat mebuat sekitar 50 – 70 nasi bungkus yang siap untuk disajikan. Bila 70 nasbung terjual, Yudi, dapat membawa pulang uang Rp 420.000.

Padahal, keuntungan satu nasi bungkus Rp 2.000. Tinggal dikalikan dengan nasbung yang terjual habis jumlahnya berapa. Karena itu, meski wabah corona merebak sejak Maret hingga kini, usaha nasbung yang dijalaninya relative aman. Artinya, tidak terdampak sama sekali. ‘’Itu semua karena harga nasbung hanya Rp 6.000,’’ ujarnya.

Yang patut dicontoh dari penjual nasi bungkus Cak Yudi, adalah selama berjualan dirinya tetap menerapkan protocol kesehatan dengan ketat. ‘’Paling tidak, saya dapat memberikan contoh, bahwa untuk memutus mata rantai harus menerapkan 3M. Yakni, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun serta menjaga jarak,’’ ujarnya.

Meski di tengah pandemic, Yudi, justru akan mengembangkan usaha nasi bungkusnya dengan cara mencari 10 karyawan. Bahkan, karyawannya, nanti akan diberi gaji bulanan, uang transport ditambah lagi komisi penjualan nasbung. ‘’Semua itu akan saya lakukan untuk menambah pendapatan. Dan saya akan tetap ngegrab setelah dagangan nasi bungkus habis. Kalau nasbung habis pukul 08.00 WIB, saya akan ngegrab mulai pukul 09.00 WIB hingga malam hari,’’ kata Cak Yudi, mengakhiri pembicaraannya. (bw)