Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur/Jatim telah berusaha melakukan Pengembangan Kawasan Industri Halal (KIH) menjadi salah satu basis yang terus didorong dan didukung perkembangannya. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan/Disperindag Jatim, Drajat Irawan, mengatakan, bahwa Jatim memiliki potensi yang cemerlang sebagai hub industri halal atau pusat industri halal terintegrasi yang berbasis pada komoditas/produk/jasa unggulan.

“Jatim memiliki Usaha Mikro Kecil dan Menengah/UMKM yang cukup besar dengan presentase 60 persen adalah industri makanan dan minuman,” ujar Drajat, di Surabaya Sabtu (31/10). Dikatakannya, 40 persen UMKM tersebut telah memiliki sertifikasi halal dan di dominasi oleh sektor produk makanan dan minuman (mamin).

Berdasarkan data MUI, industri Jawa Timur yang telah mendapatkan sertifikat Halal dari MUI (sebelum diterbikan oleh BPJPH) sebanyak 2.039 sertiifikat dan yang diterbitkan oleh BPJPH sejumlah 184. Sementara itu, Dinas Perindag Prov. Jatim selama rentang waktu 2017 hingga 2019 telah memberikan fasilitasi halal kepada 385 Industri Kecil Menengah (IKM) Jatim.

“BPJPH telah menerbitkan sertifikat halal sejak 17 Oktober 2019 sejumlah 184 sertifikat untuk Jawa Timur. Tahun ini kita mendapatkan kuota fasilitasi untuk UMKM sebanyak 428 unit usaha,” papar Drajat. Potensi Jatim sebagai KIH juga didukung oleh PT Berkah Makmur Amanda yang mengelola Kawasan Industri Safe n Lock yang berada di Sidoarjo sebagai pusat kawasan industri halal dengan luas sebesar 262 Ha, sementara yang digunakan sebagai KIH seluas 148 Ha.

Perihal tersebut diketahui melalui kunjungan monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Perindag Jatim di kawasan industri. Drajat mengatakan, melalui KIH yang berada di Sidoarjo, Pemprov. Jatim berharap suatu hari Jatim bisa menjadi pusat halal dunia khususnya untuk sektor pariwisata, mamin, kosmetik, serta kesehatan.

Direktur utama PT Makmur Berkah Amanda Tbk, Adi Saputra Tedja Surya, selaku pengembang KIH di Sidoarjo, mengatakan 24 persen dari populasi dunia adalah muslim dengan kontribusi sebesar 2,2 triliun dollar AS per tahun dan diprediksikan akan naik sebesar 5,2 persen per tahun dan mencapai 3,2 triliun dollar AS di tahun 2024.

Sementara itu, Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dengan jumlah penduduk muslim sebesar 299 juta jiwa justru menjadi importer produk halal terbesar di dunia yang nilainya mencapai 167,9 miliar dollar AS.

Berdasarkan data Global Economy Report 2019/20, Indonesia belum mempunyai peran yang cukup besar dalam ekonomi halal di dunia, dimana posisi Indonesia masih dibawah Malaysia, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Saudi Arabia. Padahal kata Adi, peluang pasar dan investasi sektor halal di Indonesia cukup besar.

“Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi penduduk muslim terbesar di dunia, tingkat konsumsi produk-produk halal di Indonesia setiap tahunnya meningkat. Terlebih banyak UMKM yang potensial menghasilkan produk-produk halal di Indonesia belum terkelola dengan baik,” tutur Adi.

Kawasan safe n lock saat ini telah mendapatkan surat keterangan dari kemenperin nomor 373/KPAII/X/2020 tanggal 22 Oktober 2020 kawasan Safe n Lock telah memenuhi kriteria dan persyaratan sebagai Kawasan Industri Halal pertama yang ada di Jatim.

Adi mengatakan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pusat pengembangan bagi produk halal dunia dengan mengembangkan industri 4.0, sebagai pusat logistic halal dunia, exporter produk halal terbesar di dunia, dan menjadi pusat keuangan Syariah untuk 57 negara OIC.

Kawasan Industri Safe n Lock yang merupakan kawasan pengembangan KIH satu-satunya di Jatim saat ini fokus pada pengembangan Consumer Good, Makanan dan Minuman, serta Kosmetik. Untuk mengembangkan KIH, Adi mengatakan bahwa perusahaan yang dipimpin olehnya menciptakan Halal Eco-System yang sempurna untuk industri halal yang berada di dalam kawasan, terutama kepada IKM yang bergerak dibidang makanan dan minuman, kosmetik dan kesehatan, menyediakan bahan baku halal untuk keperluan industri dalam memproduksi produk halal.

“Selain itu kami memberikan pelatihan kepada IKM dalam memproduksi produk halal dan pemasaran khususnya untuk pasar luar negeri. Kami juga membangun halal supply chain untuk kebutuhan para IKM baik produk kering maupun produk yang memerlukan penyimpanan dingin untuk pasar dalam dan luar negeri,” pungkas Adi. (bw)