Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Uji coba belajar tatap muka (luring), Senin (2/11) pagi, disambut gembira para siswa di Kabupaten Banyuwangi. Dengan standar protokol kesehatan (prokes) yang ketat, hari pertama belajar dipakai dengan efektif. Seperti di SMK Negeri 2 Mabadi’ul Ihsan Tegalsari.

Para siswa langsung diajak praktik. Maklum, hampir enam bulan, mereka harus belajar dari rumah. Kali ini, mereka diajari praktik membatik. Baik di kelas maupun praktik langsung. Sebelum masuk, pukul 07.00 WIB, mereka wajib mencuci tangan. Lalu, melewati pemeriksaan suhu badan.

Para guru menyambut di gerbang masuk. Tak ada jabat tangan. Hanya, salam dengan tangan di dada. Seluruh siswa dan guru kompak menggunakan masker. Khusus guru, menggunakan sarung tangan dan face shield. Begitu masuk kelas,  para siswa duduk dengan bangku yang berjarak. “ Uji coba belajar tatap muka ini, hanya 25 persen siswa yang masuk.

Sisanya bergiliran,” kata Kepala SMK Negeri 2 Mabadi’ul Ihsan Tegalsari, Dr. Umar Said. Pejabat ini menjelaskan, selama uji coba, hanya kelas 12 yang masuk. Alasannya, mereka sudah hampir lulus. Sehingga, harus banyak Pratik. Karena itu, begitu masuk, para siswa langsung diajak praktik sesuai jurusan masing-masing.

Hari pertama uji coba, lanjut Umar, ada 7 kelas yang masuk. Sisanya, akan digilir minggu selanjutnya. Menurut Umar, selama daring, para siswa diberikan pembelajaran mata pelajara teori. Karena itu, tatap muka difokuskan untuk praktik. Meski praktik, jumlah siswa dalam satu rombongan belajar (rombel) tetap dibatasi. Maksimal 15 orang satu rombel.

“Jadi, kelas ditambah, otomatis tenaga pendidik juga bertambah. Kami libatkan  guru-guru devisi produktif dibanru guru keahlian ganda,” jelasnya. Selama di kelas dan praktik, tidak ada jam istirahat. Para siswa hanya praktik 3 jam. Pukul 11.00 seluruhnya wajib pulang. Belajar luring ini juga melibatkan orang tua.

Mereka diperbolehkan melarang anaknya tidak hadir ke sekolah selama uji coba ini. “Bagi yang anaknya boleh masuk, kami berikan surat pernyataan tertulis. Ini bagian dari menjaga kepercayaan sekolah untuk menghindari penyebaran Covid 19,” tegas Umar. Rencananya, uji coba pembelajaran luring ini akan digelar seminggu.

Jika hasilnya bagus, akan dilanjutkan hingga sebulan ke depan. Di Banyuwangi, tidak semua sekolah diberikan uji coba luring. Hanya 14 sekolah dari puluhan SMA/SMK. Sekolah yang dipilih sudah mendapat kepercayaan dari Satgas Covid dan Forkopimda.

Salah satu siswa, Dwi Ariska Ramadani merasa senang bisa masuk sekolah lagi. Dia mengaku sudah enam bulan tidak merasakan bangku sekolah. “Kami senang, bisa ketemu teman-teman, para guru dan belajar tatap muka. Harapannya bisa dilanjutkan dengan  tetap protokol kesehatan,” ujar siswa kelas 12 ini. (wir)