Banyuwangi, (bisnissurabaya) – Menggembirakan. Musim pandemi tingkat hunian hotel berbintang di Banyuwangi ternyata cukup tinggi. Tembus hingga 90 persen. Okupansi ini tercapai selama musim libur panjang akhir pekan, 29-31 Oktober. Menariknya, rata-rata wisatawan menginap lebih dari 2 hari. Bahkan, ada yang 7 hari.

Banyaknya destinasi wisata di Banyuwangi menjadi salah satu alasan wisatawan memilih kabupaten ini untuk berlibur. “ Banyuwangi memiliki 12 hotel berbintang. Khusus bintang 3 ke atas, okupansinya rata-rata 90 persen selama libur long week end ini,” kata Ketua Paguyuban Hotel Berbintang Banyuwangi, Pungky Kusuma, Minggu (1/11) siang. General Manager Hotel Ketapang Indah Banyuwangi ini menambahkan wisatawan yang datang hampir seluruhnya domestik. Datang dari beberapa kota di Jatim.

Seperti, Surabaya, Malang, Sidoarjo dan kabupaten Tapal Kuda (Jember, Bondowoso, Situbondo). “Ini berkah bagi
Banyuwangi. Wisatawanya beragam. Khususnya pantai dan gunung yang indah. Kulinernya variatif,” jelasnya.

Para wisatawan memilih hotel berbintang, kata dia, membuktikan kondisi ekonomi masih bagus. Apalagi, kelas room yang dipilih juga beragam. Pihaknya mencontohkan di hotel yang dikelolanya. Mulai harga kisaran Rp 450.000 hingga Rp 9.000.000.

Pungky, menambahkan, wisatawan yang datang ke Banyuwangi memiliki pilihan konsep hotel berbintang yang banyak. Khusus hotel yang dikelola pihaknya, menawarkan pemandangan alam pedesaan dan pantai selat Bali. “Bagi yang ingin dekat dengan kota, juga banyak hotel berbintang lainnya,” jelasnya.

Pihaknya optimis, hingga akhir tahun, tingkat okupansi hotel berbintang di Banyuwangi akan tetap membaik. Hal ini didasarkan pada okupansi rata-rata di hari normal. Selama pandemi, hotel yang dikelolanya mampu survive dengan baik. Meski terjadi penurunan okupansi. Saat normal ketika pandemi, okupansi masih tembus hingga 50 persen.

“Kami sempat tutup total dua bulan karena Covid. Setelah itu, kita buka lagi dengan standar protokol kesehatan,” jelasnya. Untuk menarik wisatawan, pihaknya bersama hotel berbintang lain menyuguhkan konsep yang menarik. “Tentunya setiap hotel berbeda. Namun, tetap mengedepankan potensi lokal,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Banyuwangi Zaenal Muttaqin, menyatakan, lonjakan okupansi juga menyasar hotel melati. Lonjakan terjadi sejak 28 Oktober. “Peningkatan
okupansi ini cukup fantastis di musim pandemi ini,” tegasnya. Jumlah hotel di Banyuwangi tercatat 72 titik. Dari jumlah ini, 12 diantaranya kategori berbintang. (wir)