Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Selama September impor Jawa Timur/Jatim didominasi bahan baku penolong dengan nilai 1,366 miliar dollar AS dengan memberikan kontribusi sebesar 78,10 persen.

Sementara, impor barang-barang konsumsi merupakan golongan barang urutan berikutnya, dengan  nilai sebesar 196,53 juta dollar AS atau dengan  peranan sebesar 11,24 persen.

“Sementara barang-barang modal merupakan kelompok impor terkecil, dengan peranan sebesar 10,67 persen atau dengan nilai sebesar 186,59 juta dollar AS,” kata Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan, di Surabaya, Jumat (30/10).

Perkembangan impor Jatim September, menurut golongan penggunaan barang. Komoditas Impor bahan bakar motor tanpa timbal dari RON lainnya tidak dicampur menjadi komoditas impor dengan nilai tertinggi pada September 2020 dengan nilai sebesa 122,63 juta dollar AS atau naik sebesar 32,71 persen dibanding bulan sebelumnya dan komoditas tersebut mayoritas diimpor dari Singapura sebesar 73,23 juta dollar AS.

Peringkat kedua ditempati oleh komoditas hasil dari ekstraksi minyak kacang kedelailainnya dengan nilai impor 64,26 juta dollar AS atau naik 4,64 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Komoditas hasil dari ekstraksi minyak kacang kedelai lainnya tersebut mayoritas diimpor dari Argentina 33,58 juta dollar AS.

Kemudian peringkat ketiga adalah komoditas bahan bakar motor, tanpa timbal dari RON 90 dan lebih tetapi di bawah RON 97 tidak dicampur, dengan nilai 60,65 juta dollar AS atau naik sebesar 101,37 persen dari bulan sebelumnya. Komoditas ini dominan didatangkan dari Singapura dengan nilai impor 30,76 juta dollar AS.

Menurut Dadang, berdasarkan 15 jenis komoditas impor nonmigas terbesar, komoditas bahan bakar motor, tanpa timbal dari RON 90  dan lebih tetapi di bawah RON 97  tidak dicampur merupakan komoditas utama yang mengalami peningkatan nilai impor paling tinggi pada September 2020 dengan peningkatan dari 30,12 juta dollar AS menjadi 60,65 juta dollar AS.

Sementara, penurunan nilai impor tertinggi terjadi pada komoditas emas dalam bentuk bongkah ingot atau batang tuangan yang turun dari 83,26 juta dollar AS menjadi 46,04 juta dollar AS. Komoditas terbesar impor yaitu komoditas bahan bakar motor, tanpa timbal dari RON lainnya tidak dicampur mempunyai peranan 7,01 persen dari total impor Jatim pada September 2020. Kemudian komoditas hasil dari ekstraksi minyak kacang kedelai lainnya memberikan kontribusi impor 3,67 persen.

Sedangkan impor komoditas bahan bakar motor tanpa timbal dari RON 90 dan lebih tetapi di bawah RON 97  tidak dicampur mempunyai peranan 3,47 persen.

Secara kumulatif Januari – September 2020  komoditas bahan bakar motor tanpa timbal dari RON lainnya tidak dicampur, menjadi komoditas impor yang dominan dengan peranan sebesar 5,82 persen  dengan nilai 857,32 juta dollar AS. Komoditas hasil dari ekstraksi minyak kacang kedelai lainnya dengan peranan 4,02 persen dengan nilai 592,54 juta dollar AS. Berikutnya adalah komoditas kondensat dengan peranan sebesar 2,98 persen  dengan nilai sebesar 439,26 juta dollar AS. (bw)