Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Wabah corona yang sudah berlangsung tujuh bulan ini, membuat prihatin semua pihak. Sebab, segala bidang usaha mulai pelaku UMKM hingga perusahaan swasta skala nasional merasakan dampaknya. Karena itu, pelaku UMKM seperti tukang bakso pinggir jalan pun mematuhi protokol kesehatan dengan menyediakan fasilitas 3 M. Terutama tempat cuci tangan di depan gerobak baksonya.

Misalnya, Bakso Hompimpa yang sehari-hari mangkal di Perumahan Elit Bukit Mas Surabaya di kawasan Jalan Mayjen Sungkono samping Makam Pahlawan ini tidak main-main dengan wabah corona ini. ‘’Selama berlangsung PSBB pertama selama 14 hari April lalu, semua PKL tidak diperbolehkan buka. Selama itu, pula kami tidak ada masukan uang,’’ kata Yadi dan Jaid, yang melayani konsumen yang ingin makan bakso-nya Senin (26/10) siang.

Tempat mencuci tangan beserta sabun yang diletakkan di depan gerobak ini, kata dia, merupakan salah satu syarat dibukanya Bakso Hompimpa ini. Sebab, kata Yadi, sesekali ada operasi yustisi yang dilakukan tim satgas covid-19 bersama Satpol PP yang sengaja datang untuk memeriksa apakah disini menerapkan protocol kesehatan dengan baik.

Tak pelak, setiap hari baik Yadi dan Jaid, harus memakai masker dalam melayani pembeli. Demikian juga dengan konsumen yang hendak membeli dan memakan baksi di tempat harus menggunakan masker. ‘’Saat PSBB kedua kami diperbolehkan buka, tetapi harus tidak ada meja dan kursi. Konsumen hanya dibolehkan membeli bakso dengan cara dibungkus. Dan itu harus dipatuhi tidak boleh dilanggar,’’ ujarnya.

Ia menceritakan, akibat wabah corona ini pendapatan atau omzet turun drastis. Sebelum, ada pandemi, omzet penjualan Bakso Hompimpa antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Tetapi, hingga Oktober ini omzetnya hanya berkisar Rp 1 juta. Ia mengaku, sampai sekarang perdagangan belum normal 100 persen. Tetapi, baru pada tahap 70 persen.

Biasanya, menurut dia, setiap hari Baksi Hompimpa mampu menjual 200 mangkuk. ‘’Tetapi, saat ini bila Sabtu – Minggu bisa menjual 125 mangkuk. Sedangkan pada hari biasa hanya dapat 100 mangkuk saja,’’ ujar Jaid, lelaki asal Blitar ini yang sudah beberapa tahun bekerja di Bakso Hompimpa ini. (bw)