Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Dari 11 pendemo tolak Omnibus Law di depan Kantor DPRD Banyuwangi, Kamis (22/10) sore, ternyata reaktif Covid-19. Fakta itu terungkap setelah tim medis Polresta Banyuwangi melakukan rapid test kepada pendemo yang diamankan karena terlibat kericuhan. Karena reaktif Covid, polisi langsung menyerahkannya ke RSUD Blambangan. “Begitu kita amankan, 11 pendemo yang terlibat kericuhan dilakukan rapid tes. Hasilnya, satu orang reaktif,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifudin.

Perwira ini menjelaskan, pendemo yang reaktif akan dilakukan uji swab. Jika positif Covid, tentunya akan dilakukan perawatan di RS yang dimiliki Pemkab Banyuwangi. Terkait peristiwa ini, pihaknya meminta masyarakat Banyuwangi bisa menahan diri membuat kegiatan keramaian.

Termasuk, menggelar aksi demo. Sebab, berpotensi memicu penularan Covid-19. “Ini sudah reaktif satu orang. Padahal, sudah kontak dengan pendemo lain. Tentunya, harus dijadikan pengalaman dan disikapi bersama,” tegasnya. Pascakejadian ini, pihaknya akan mengkaji ulang jika ada pemberitahuan aksi demo melibatkan massa besar. Hal ini berkaitan dengan protokol Covid-19.

Aksi demo pemuda menolak Omnibus Law di depan DPRD Banyuwangi, Kamis (22/10) sore, berakhir ricuh. Massa yang berjumlah sekitar 200 orang mengamuk, merobohkan gerbang utara DPRD setempat. Sempat terlibat aksi dorong antara polisi dan massa. Polisi akhirnya bertindak tegas. Massa dibubarkan. Sebanyak 11 orang diamankan, dua diantaranya perempuan. Diduga, pemicu kericuhan. (wir)