Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Pandemi tak membuat daya beli masyarakat seluruhnya turun. Justru, sejumlah usaha omzetnya meningkat. Budidaya ikan hias koi, salah satunya. Seperti diakui Iwan Setiawan, pemilik usaha ikan Koi di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur/Jatim. Saat pandemi, omzet usaha ini justru naik hingga 25 persen. Kok bisa?

Menurut Iwan, panggilan akrabnya, usaha budidaya koi tak terdampak penurunan akibat Covid. Justru, permintaannya naik dibandingkan hari normal. “Mungkin warga yang lebih banyak di rumah memilih memelihara ikan koi,” kata Iwan, Rabu (21/10) siang. Pesanan ikan koi, kata dia, datang dari Banyuwangi dan luar kota.

Seperti, Jember, Situbondo, Bondowoso hingga Bali. Bahkan, dari Pontianak, Kalimatan. Pembeli kebanyakan memesan jenis koi kecil. Ada juga yang berukuran besar. “Kalau pembeli lebih banyak dari Banyuwangi dan Bali. Hampir setiap hari ada,” ujarnya. Para pembeli kebanyakan pedagang yang akan dijual lagi.

Iwan menambahkan, masa pandemi, hobi memelihara koi justru naik. Pemicunya, masyarakat lebih banyak di rumah. Sehingga, mencari kesibukan baru. Salah satunya memilih memelihara koi. Selain indah, ikan koi bernilai ekonomis tinggi. Menurut Iwan, dalam kondisi normal, omzet usahanya bisa tembus Rp 50 juta per bulan.

Ketika Covid, omzet naik hampir Rp 75 juta. Naiknya omzet ini tak hanya dirasakan Iwan. Petani yang bermitra dengannya ikut kecipratan berkah. Sedikitnya 50 peternak koi bermitra dengannya. Mereka bertugas melakukan pembesaran ikan. Sebagian, petani padi yang menerapkan konsep mina padi.

“Ada juga yang memiliki kolam pembesaran sendiri,” imbuhnya. Petani yang menerapkan mina padi, kata Iwan, penghasilannya ganda. Selain padi, penghasilan panen ikan tak kalah besar. Mitra yang terlibat pembesaran terbagi dua kelompok. Ada yang membesarkan bibit hingga usia 1 bulan. Lalu, pembesaran dari 1 bulan hingga 3,6 bulan atau satu tahun.

Petani yang membesarkan hingga satu bulan diberikan bibit gratis. Setelah cukup umur dihargai Rp 1000 per ekor. Satu petani bisa membesarkan hingga ribuan ekor. Sedangkan petani yang membesarkan usia 1 bulan, dikenakan harga bibit. Setelah umur 3 – 6 bulan, dijual lagi ke Iwan. Harganya, Rp 25.000 hingga Rp 40.000 per ekor.

“Harga ini lumayan bagus, biaya pakannya juga tak terlalu mahal,” jelasnya. Sebulan, Iwan bisa membeli benih hingga Rp 30 juta dari petani mitra. Bupati Banywuangi Abdullah Azwar Anas memberikan apresiasi budidaya ikan koi ini. Menurutnya, di masa pandemi, potensi desa harus digerakkan. Sebab, bisa menopang ekonomi.

Apalagi, dijalankan dengan konsep kemitraan. “Ini contoh pengusaha sukses yang mengembangkan diri dan orang-orang di sekitarnya. Bisa ditiru untuk masyarakat lain,” kata orang nomor satu di Banyuwangi ini. (wir)