Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Sebuah telepon selular (ponsel) di meja mendadak berdering. Terdengar perintah kembali ke rumah sakit. Satu pasien Covid kembali meninggal.

Meski malam, mata mengantuk, tak ada kompromi untuk menolak. Harus berangkat. Kisah ini menjadi jalan hidup yang dilalui Agus Wahyudi, petugas pemulasaran jenazah di RSUD Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur/Jatim.

Pandemi Covid memberikan tugas tambahan bagi pria yang akrab dipanggil Yudi, ini. Bayangkan, saat Covid, satu hari bisa memakamkan hingga lima jenazah. Tugas yang berat. Apalagi dengan protokol kesehatan yang ketat. Baju pelindung diri yang panas. Belum lagi jarak pemakaman yang jauh dari RSUD. Benar-benar menguras tenaga.

Menjadi petugas pemulasaran jenazah bukanlah cita-cita Yudi. Berawal dari tugas sang ayah, Rohadi (almarhum) yang bertugas di kamar jenazah RSUD Blambangan, Yudi menekuni tugas mulia itu.

Saat ayahnya masih bertugas, Yudi, kerap membantunya. Saat ayahnya pensiun, dia melajutkannya.
Saat pandemi, tugas Yudi, bertambah. Harus siaga penuh. Ponsel tidak boleh mati. Setiap saat siap berangkat. Kurang tidur sudah biasa. “Ini sudah tugas, kapan pun dihubungi harus berangkat. Apalagi musim pandemi ini,” kata Yudi, saat ditemui, Jumat (16/10) sore.

Bertugas mengurus jenazah saat pandemi tak kalah beresiko dengan tenaga kesehatan. Sebab, sama-sama kontak langsung dengan pasien. Dalam bertugas, Yudi, dibantu dua petugas lain. Mulai menjemput dari ruang isolasi, pemulasaran di kamar jenzah hingga ke pemakaman.

Khusus ke pemakaman, ditambah sopir ambulans dan pengusung jenazah.
Menjadi petugas pemulasaran jenazah saat pandemi, bukan tugas mudah. Selain resiko kesehatan, juga perasaan. Saat pemakaman, kerap kali Yudi, dan timnya mendapat perlakuan tak menyenangkan. Dicemooh hingga bully. Biasanya dari keluarga pasien yang dilarang mendekat. “Saya sering terenyuh, padahal kami hanya bertugas. Tapi dicemooh dengan kata-kata yang kurang pantas. Jadi, kami harus benar-benar menahan hati,” kisah pria 31 tahun tersebut.

Menghindari aksi cemooh dari keluarga korban, Yudi, meminta pengawalan polisi ketika pemakaman. Meski begitu, tak semua keluarga korban melakukan aksi cemooh. Banyak juga yang simpatik, mendukung proses pemakaman. Bahkan, memberikan ucapan terima kasih. Sikap seperti ini menjadi dukungan moril bagi timnya. Padahal, timnya tak butuh bantuan. Hanya dukungan agar proses pemakaman bisa lancar.

Proses pemakaman, kata Yudi, dilakukan dengan protokol Covid yang ketat. Biasanya, penggali makam dibantu warga. Saat memakamkan, hanya petugas yang melakukan. Usai pemakaman, tim melakukan protokol kesehatan yang tak kalah ketat. Baju pelindung diri dibakar, tubuh disemprot disinfektan. Lalu, mandi bersih. Seluruhnya dilakukan di rumah sakit. Yudi dan tim selalu membawa baju ganti ketika bertugas. Tujuannya, ketika pulang ke rumah dalam kondisi bersih, steril. Hingga Oktober ini, Yudi, dan tim sudah memakamkan 70 jenazah pasien Covid. Sehari, dirinya pernah memakamkan jenazah pasien Covid hingga lima kali. Tugas itu diselesaikan hingga pukul 21.00 WIB, dimulai sejak pagi.

Yudi mengisahkan, pemulasaran jenazah Covid diberlakukan sedikit beda. Namun, tetap menggunakan tata cara syariat. Bedanya, jenazah pasien harus dibungkus plastik. Sebelum dipulasara, disemprot menggunakan disinfektan. Lalu, dimasukkan ke peti mati.

Bagi Yudi, menjadi petugas pemulasaran jenazah lebih banyak ke ibadah. Apalagi, dirinya masih berstatus pegawai honorer. Ketika melakukan pemakaman, honor yang diterima berbeda dengan tenaga kesehatan yang merawat pasien Covid. Meski begitu, dirinya tetap bersyukur. Bisa membantu sesama dan mengajak masyarakat patuh dengan protokol kesehatan.

Rajin Minum Jamu Rempah Meski terbiasa menangani jenazah, Yudi, sempat takut di awal menangani jenazah pasien Covid. Bukan tanpa alasan. Baginya, virus asal Cina itu cukup membahayakan. Saking takutnya, Yudi, pernah menggunakan baju hazmat ketika buang air besar. “Itu saat pertama bertugas menangani jenazah pasien Covid. Benar-benar takut. Akhirnya, terbiasa setelah mendapatkan pelatihan
medis,” kenang Yudi.

Untungnya, keluarga mendukung penuh profesi suami dari Rita Handayani, tersebut. Meski sering ditinggal tugas, keluarga tak protes. Bahkan, suatu kali, saat baru pulang tugas, ponselnya kembali berdering. Dipanggil lagi untuk tugas pemulasaran jenazah. Sang istri hanya bisa tersenyum. “Di awal tugas, istri juga sempat ikut was-was. Kini, sudah tak lagi,” kenangnya lagi.

Saat di rumah, Yudi, rajin mengkonsumsi minuman rempah. Seperti, jahe, kunir dan serai. Sang istri rajin membuatkan. Harapannya, membantu daya tahan tubuh. Meski gaji yang diterima tak sebanding dengan pengorbanan, Yudi, tak mengeluh. Sekali pemakaman, mendapatkan honor Rp 150.000. Baginya, mengabdi untuk masyarakat merupakan ibadah. Dia juga mengajak masyarakat selalu hidup sehat, pakai masker, cuci tangan dan selalu menjaga jarak. (wir)