Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Ketersediaan akan kebutuhan bahan baku tebu menjadi prioritas utama dalam pencapaian produksi gula. untuk itu agroforestri menjadi solusi menambah lahan tebu.

Hal tersebut disampaikan Komisaris utama, Dedy Mawardi, dalam kunjungan kerja yang digelar secara virtual melalui aplikasi video conference di Pabrik Gula (PG) Pagottan Kabupaten Madiun Rabu (14/10).

Ketersediaan lahan adalah kunci dari peningkatan produktivitas tebu, kurang tepat jika selama ini faktor pabrik selalu menjadi kambing hitam menurunnya produksi gula nasional, PG sudah berumur, tidak efisien dan sebagainya. Memang faktor pabrik ada pengaruhnya tetapi selama ini sudah ditangani, teman-teman manajemen selalu lakukan maintenance rutin bahkan over hall seperti saat ini, selesai giling.

Beberapa revitalisasi juga dilakukan oleh pabrik gula khususnya PTPN XI yang kesemuanya bertujuan adanya performa serta efisiensi pabrik. Tetapi kita juga harus melihat ke hulu, yakni ketersediaan tebu. Ketersediaan tebu bisa dipenuhi dengan adanya perluasan lahan tebu.

“Pabrik gula bertambah di Jawa Timur tapi lahan tebu tidak bertambah bahkan berkurang. Akibatnya pabrik gula  “berebut” tebu dengan cara yang tidak sehat. Inilah yang harus menjadi fokus bersama para pelaku industri gula. Bagaimana caranya semua pihak yang berkepentingan bisa menaikkan luasan lahan tebu sehingga ketersediaan tebu sebagai bahan baku giling tercukupi,” kata Dedy Mawardi, melalui Humas PTPN XI Brilliant Johan, Kamis (15/10).

Pihaknya menyoroti pola kerjasama pengelolaan lahan sebagai salah satu solusi menambah lahan tebu khususnya di wilayah kerja PTPN XI.

Beberapa waktu lalu menteri BUMN menyampaikan perlu adanya sinergi antara PTPN dengan Perhutani untuk pengadaan lahan tebu dengan memanfaatkan lahan milik Perhutani. Sinergi antar bumn ini, yakni Perhutani dengan PTPN XI sejak 2017 sudah dilakukan melalui kerjasama agroforesty. “Saya kira pihak perhutani juga akan menyambut baik kerjasama ini dan nampaknya perlu ditingkatkan untuk ketersediaan lahan tebu demi terwujudnya program Presiden Jokowi tentang ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh SEVP Operational  PTPN XI Agus Setiono bahwa pihaknya akan berkomunikasi lagi dengan pihak perhutani. “Sejak 2017 kita sudah kerjasama pengelolaan lahan dengan perhutani dengan luasan total 1,834 hektar untuk lahan tebu tersebar di wilayah Madiun, Ngawi dan Bojonegoro. Dari jumlah tersebut yang bisa tertanami hingga saat ini baru 800-an hektar terkendala teknis. Kendala teknis akan kami bicarakan bersama untuk jalan keluarnya. Terlebih pertengahan tahun lalu sudah ada pembicaraan dengan Perhutani, dan akan kami kembangkan lagi,” terang Agus Setiono.

Kunjungan kerja virtual dilakukan di PG Pagottan Madiun dan PG Kedawoeng Pasuruan diikuti oleh Dewan Komisaris, SEVP Operation, General Manager masing-masing pabrik gula dan jajarannya. Selama musim giling tahun 2020 PG Pagottan menggiling sekitar 300.000 ton tebu dan menghasilkan gula total sekitar 23.000 ton GKP sedangkan PG Kedawoeng menggiling total 186ribu ton tebu dan menghasilkan gula sekitar 12.000 ton GKP

Hingga saat ini 12 pabrik gula milik PTPN XI telah menyelesaikan giling tahun 2020 dan menyisakan satu PG yakni PG Djatiroto untuk meneruskan giling rencana hingga akhir bulan Oktober 2020. (bw)