Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Polresta Banyuwangi bergerak cepat mengantisipasi aksi demo berujung anarkisme. Kalangan tokoh agama (toga) dan tokoh masyarakat (tomas) diajak deklarasi anti anarkisme, tanpa mengerahkan massa, Jumat (16/10) pagi.

Selain antisipasi kerusuhan, aksi ini mengantisipasi penyebaran Covid. Selain toga, deklarasi diikuti organisasi pemuda dan organisasi kemasyarakatan.
Dari kalangan toga, seluruh perwakilan agama di Banyuwangi ikut hadir.

Deklarasi berisikan seruan menolak anarkisme, berita hoax dan selalu mematuhi protokol kesehatan Covid-19. “Intinya, deklarasi toga, tomas dan organisasi pemuda ini sepakat menolak pengerahan massa dan anarkisme, serta patuh protokol kesehatan Covid,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifudin, usai deklarasi. Dijelaskan, pihaknya mengajak para tokoh untuk deklarasi anti anarkis pasca-penetapan UU Cipta Kerja. Sebab, muncul aksi pengerahan massa menolaj UU tersebut. Imbasnya, rawan rusuh yang terjadi di beberapa kota di Indonesia.

“Di Banyuwangi, kami sifatnya antisipasi, termasuk antisipasi penyebaran Covid-19,” jelas Kapolresta. Apalagi, lanjut Kapolresta, aksi demo melibatkan kalangan pelajar SMA/SMK. Karena itu, pihaknya mengajak Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi untuk ikut menertibkan pelajar. Sehingga, tidak ikut-ikutan
turun ke jalan.

“Budaya Banyuwangi sangat jauh dari kegiatan anarkisme. Jadi, kami mengajak komponen masyarakat untuk menjaga situasi kondusif, bebas dari anarkisme,” pungkas Kapolresta. Sementara itu, Ketua Gerakan Pemuda Anshor Banyuwangi, H Ikhwan Arief, mengatakan, pihaknya mendukung deklarasi anti pengerahan massa ini.

Alasannya, di musim pandemi, kegiatan berkerumun sangat tidak dianjurkan. Apalagi, berpotensi memicu kerusuhan. “Kami sepakat tidak ada pengerahan massa di musim pandemi. Apalagi, demo berujung anarkisme.
Sebaiknya, kita fokus memperdayakan masing-masing untuk penguatan ekonomi,” tegasnya. (wir)