Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Ironis. Di tengah perayaan HUT TNI yang ke-75, pada 5 oktober 2020 lalu, justru beberapa bangunan yang menyimpan cerita bersejarah saat berperang melawan  dan mengusir tentara belanda terbengkalai. Seperti bangunan peninggalan belanda bercat hijau di Jalan Rawajali 47 surabaya, yang dulunya dijadikan asrama tentara yang mengalami cacat fisik akibat pertempuran di tahun 1945 hingga 1949.

Siapa sangka, bangunan tua bercat hijau  di Jalan Rajawali 47 Surabaya ini, menyimpan cerita sejarah kehidupan perjuangan para tentara kita. Bangunan tua peninggalan Belanda yang diperkirakan dibangun pada 1930 kondisinya sangat memprihatinkan. Terlihat tak terawat, kotor, gelap, bahkan terkesan angker. Padahal, tempat ini dulunya dijadikan asrama para pejuang cacat veteran yang pernah berjuang membela tanah air.

Bahkan, di areal  seluas 2.100 meter persegi ini juga ada sebuah bangunan bungker yang cukup kokoh dan luas, dengan 2 pintu besi dan memiliki ketebalan dinding setebal 74 centimeter, dengan 7 pintu yang menghubungkan beberapa ruang dengan ventilasi beberapa pipa yang ditanam di Dinding Bungker.

Ada sekitar 30 tentara bersama keluarganya yang dulunya tinggal di asrama ini, mereka semua mengalami cacat fisik akibat bertempur melawan belanda tahun 1945 hingga 1949 yang tergabung dalam Korp Cacat Veteran Republik Indonesia/KCVRI Surabaya.

Diakui Lilis Soesijaningsih, Sekretaris Korp Cacat Veteran RI/KCVRI Cabang Surabaya. Dirinya, banyak mendengar cerita tentang perjuangan para tentara dari ayahnya yang juga menjadi anggota KCVRI dan tinggal di areal ini.

Dimana bangunan di Jalan Rajawali ini merupakan bangunan peninggalan Belanda yang diusir para tentara, dan kemudian dijadikan tempat tinggal, dan diresmikan asrama sejak 1966. Karena para veteran ini, tinggal bersama keluarganya. Sehingga bangunan ini disekat-sekat dijadikan kamar untuk tempat tinggal mereka,termasuk di dalam bungker.

Namun, sejak bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya, para veteran ini dipindahkan ke perumahan khusus untuk cacat veteran di daerah Pakal Benowo, yang jadi satu dengan perumahan yang dibangun Yayasan Darmais milik Bu Tien Suharto.

Diakui Lilis, meski sudah menjadi bangunan cagar budaya, namun, saat ini memang tidak ada bantuan dana rutin dari pemerintah kota surabaya maupun dari kodam v brawijaya untuk operasional.Perawatan gedung. Hanya, jika mereka mengadakan kegiatan dan mengajukan proposal,baru ada dana yang masuk.

Meski sudah kosong, namun, untuk menjaga dan membersihkan areal ini, agar tidak dihuni oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tempat ini masih dihuni oleh beberapa orang yang merupakan ahli waris para veteran. Entah sampai kapan bangunan bersejarah  yang usianya lebih dari 75 tahun ini akan mendapat perhatian dan kepedulian. Baik dari pemerintah maupun dari kita sebagai generasi penerus. (irwanda/stv)