Malang, (bisnissurabaya.com) – Abah Sanusi bersama Sam Didik, ziarah ke makam pendiri kota Malang, Ki Ageng Gribig Kamis (8/10).

Tradisi ziarah kubur ulama menjadi salah satu cara menempa akhlak di kalangan generasi nahdiyin, mengenang kembali kisah-kisah para ulama dalam menyebarkan agama Islam hingga mendoakannya menjadi salah satu amalan dengan harapan senantiasa mendapat limpahan keberkahan Allah SWT bersama akhlak para ulama mulia.

Komplek makam Ki Ageng Gribig terletak di Jalan Ki Ageng Gribig Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Tak hanya Makam Ki Ageng Gribig, dalam Komplek Makam tersebut terdapat pula makam para Bupati Malang yang pernah memerintah pada akhir abad ke-19 hingga abad ke-20.

Salah satunya, terdapat makam RAA Notodiningrat, Bupati Malang yang pertama. Bupati Notodiningrat adalah orang yang yakin akan kisah Ki Ageng Gribig sebagai sosok pendiri cikal-bakal Malang. Setelah menemukan makam Ki Ageng Gribig, Bupati Notodiningrat, kemudian membangun dan memelihara makam tersebut. Notodiningrat-lah sosok yang membangun makam Ki Ageng Gribig sebagai makam keluarga dan berlangsung turun-temurun.

Komplek makam Ki Ageng Gribig merupakan salah satu tempat yang dikeramatkan. Peziarah tersebut umumnya datang dengan tujuan untuk berdoa agar keberkahan yang telah dilimpahkan Allah SWT kepada Ki Ageng Gribig senantiasa menyertai kehidupan mereka

Sekitar tahun 1600-an, sejarah penyebaran Islam di Bumi Nusantara terukir sosok Ki Ageng Gribig. Kebiasaannya yang gemar berkelana mengantarkannya kesebuah hutan lebat cikal bakal berdirinya Kota Malang. Merasa cocok dengan hutan tersebut, di mulailah pembabatan hutan untuk pemukiman pertama di Malang

Ki Ageng Gribig bernama asli Wasibagno Timur, atau Syekh Wasihatno. Disebutkan, Ki Ageng Gribig, merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V, raja terakhir kerajaan Majapahit. Ki Ageng Gribig diyakini sebagai putra Raden Mas Guntur atau Prabu Wasi Jaladara. Raden Mas Guntur adalah putra dari Jaka Dolog, yang merupakan putra dari Raja Brawijaya V.

Sebagai keturunan dari Maulana Malik Ibrahim atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gresik. Maulana Sulaiman atau Ki Ageng Gribig merupakan putra dari Maulana Muhammad Fadhillah atau Sunan Prapen. Sunan Prapen adalah putra dari Sunan Giri, yang merupakan putra Maulana Ishaq. Maulana Ishaq adalah putra dari Sunan Gresik.

Sebenarnya, makam Ki Ageng Gribig tak hanya diyakini berada di kota Malang. Makam Ki Ageng Gribig juga diyakini berada di Desa Krajan, Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Setiap perayaan Haul Ki Ageng Gribig, warga setempat menggelar tradisi Saparan Yaqowiyu. Sebuah ritual penyebaran kue apem yang biasanya akan diperebutkan oleh pengunjung. Tradisi tersebut biasanya diadakan sekitar tanggal 15 bulan Safar pada penanggalan Hijriyah.

Tradisi ini bermula ketika Ki Ageng Gribig pulang dari tanah suci membawa oleh-oleh kue apem. Anehnya, kue yang dibawa oleh Ki Ageng Gribig tersebut masih hangat. Para santri pun berebut mendapatkan oleh-oleh tersebut. Karena tidak cukup, maka Nyi Ageng Gribig membuat apem yang pun dibagikan kepada penduduk Jatinom. Sejak saat itu, masyarakat Jatinom mengikuti dengan membuat apem, untuk keselamatan. (yul)