Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Masyarakat kota Sidoarjo butuh pemimpin handal. Tetangga Surabaya (kota metropolis) ini, harus mengejar ketertinggalan. “Jangan coba-coba. Cari pemimpin yang berpengalaman dan mumpuni. Memilih pemimpin yang baik dan benar, itu wajib (nasbul imamah wajibun),” kata H Much Su’udi, pengusaha transportasi yang kini merambah ke sektor properti Kamis (8/10).

Menurut Abah Su’udi, panggilan akrabnya, dirinya sudah menjajaki program pasangan calon yang sedang meramaikan Pilkada Sidoarjo. Dia ‘jatuh hati’ ke pasangan calon/Paslon No 1, Bupati-Wabup Bambang Haryo Soekartono – M Taufiqulbar (Baiq) lantaran kecakapannya.

“Programnya jelas dan terukur. Disamping pengalaman, keduanya adalah pengusaha yang memiliki track record bersih. Sidoarjo beruntung karena sulit mencari sosok seperti BHS-Taufiq ini,” katanya. Ditanya soal warga Sidoarjo yang mayoritas nahdliyin, Abah Su’udi, justru menyuguhkan ibu jarinya alias jempol. “Pas. Keduanya warga NU tulen. Ini menjamin membuat hubungan baik antara ulama dan umara. Pondasi Sidoarjo yang dikenal sebagai daerah kondusif, akan terjaga dengan baik,” tegas pengusaha yang terus merambah ke daerah Gerbang Kertosulilo ini.

Ia kemudian, membeberkan sebagian program BHS-Taufiq. Misalnya, sektor pendidikan, UMKM dengan permodalan berbasis syariah. Ini betul-betul akan diakomodasi. Termasuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan pesantren.

Di Sidoarjo, jelasnya, jumlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) masih sangat minim. Begitu juga perhatiannya. Saat ini, MI di Sidoarjo ada 211 lembaga. Jumlah tersebut dinilai kurang, jika dibanding dengan jumlah MI di Kabupaten Pasuruan dan Gresik. “Padahal, disinilah dasar moralitas anak kita dibentuk,” pungkasnya.

Selama ini, perhatian terhadap madrasah dan pesantren, termasuk TPQ, memang, sudah bagus. Tetapi, masih perlu diperbaiki lagi. Saat ini, dana hibah NU dari Pemkab sekitar Rp 14 miliar. Jumlah ini masih jauh dari harapan. “Tidak dikurangi bahkan ditambah. Sehingga cukup untuk pengembangan dan kepentingan NU di Sidoarjo yang memang jumlahnya mayoritas,” ujarnya.

Begitu juga soal kesejahteraan guru ngaji dan Tahfidz Qur’an yang selama ini masih tergolong kecil. Ini butuh perhatian khusus. Apalagi, sosok Taufiqulbar sudah tidak asing lagi di lingkungan NU, karena berasal dari keluarga NU. Dia cucu Ketua MWC NU Sedati, H Hasan Dahlan.

“Ayahnya juga pernah menjabat Ketua PAC Ansor Sedati. Mertuanya, H Maskur Rois, adalah salah satu tokoh NU di Kabupaten Sidoarjo dan salah satu pendiri RSI Siti Hajar Sidoarjo. Taufiq, itu masih cucu  KH Husein Ilyas, salah satu kiai sepuh di Mojokerto,” ungkapnya.

Ditanya soal pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM), H Su’udi, yakin, kalau sosok BHS adalah jagonya. Perubahan Sidoarjo menuju yang lebih baik, tidak bisa menafikkan pembangunan SDM.

“Mulai dari pembangunan infrastruktur, pembangunan SDM, dan pengentasan kasus gizi buruk, harus dikebut. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh sosok yang mumpuni. Itulah sebabnya, Sidoarjo harus nomor 1,” tutupnya. (rin)