Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Eksekusi pengosongan rumah dinas di kompleks Institute Teknologi 10 Nopember Surabaya/ITS berlangsung ricuh. Pihak penghuni rumah menghadang dan melakukan perlawanan saat petugas its hendak melakukan pengosongan rumah. Petugas pun sempat menyeret sejumlah penghuni dan mendobrak pintu rumah agar bisa masuk ke dalam.

Kericuhan pengosongan rumah dinas ITS Blok U Nomer 146 ini terjadi usai petugas membacakan surat keputusan eksekusi pengosongan. Karena negosiasi a lot, penghuni rumah dari keluarga almarhum Dino Kilaan, menghadang petugas keamanan kampus di depan pintu utama.

Bahkan, petugas menyeret keluar tiga penghuni rumah yang menghadang agar bisa masuk ke dalam. Salah seorang anak lelaki almarhum meronta dan mencoba melakukan perlawanan kepada petugas kampus yang menyeretnya keluar.

Petugas terpaksa mendobrak pintu utama rumah berukuran 400 meter persegi tersebut karena dikunci dari dalam. Begitu terbuka, petugas penertiban kampus langsung mengeluarkan barang-barang milik penghuni. Pihak penghuni rumah dinas yang menempati sejak 1997 ini menolak dieksekusi karena merasa membangun sendiri rumah tersebut dari KPR BTN. Sedangkan pihak kampus tidak memberi ganti rugi yang layak dan manusiawi.

Sementara itu, Ketua Tim Penertiban Rumah Negara ITS, Suwadi, menegaskan, eksekusi pengosongan ini dilakukan karena tidak ada titik temu meski telah dilakukan mediasi beberapa kali.

Pihak ITS menyatakan,  rumah negara ini hanya di tempati untuk karyawan dan dosen ITS. Sedangkan kedua orang tua penghuni rumah ini sudah meninggal dunia. Sementara itu, nur alfiani / Kuasa Hukum Keluarga almarhum Dino, Nur Alfiani, mengatakan, atas kejadian ini, keluarga almarhum Dino Kilaan, akan melakukan upaya hukum di pengadilan. (irwanda/stv)