Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Empat desa di pesisir di selatan Banyuwangi dinilai rawan diterjang tsunami. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Tahun 1994, Banyuwangi pernah diterjang tsunami dahsyat. Korbannya ratusan orang. Menyusul riset ITB tentang potensi tsunami setinggi 20 meter, Banyuwangi menerapkan status siaga bagi empat desa tersebut.

Empat desa itu, Sarongan, Desa Sumberagung dan Desa Pesanggaran. Ketiganya di Kecamatan Pesanggaran. Satu lagi, Desa Grajagan di Kecamatan Purwoharjo. “Banyuwangi memiliki sejumlah kawasan yang berpotensi tsunami. Menyusul riset ITB, kami jadikan perhatian serius,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Eka Muharam, Kamis (1/10) siang.

Pejabat ini menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif terkait tsunami. Diantaranya, pemasangan alat early warning system (EWS) hingga penyiapan Desa Tangguh Bencana yang sudah dibentuk sejak 2013.

“Dari keempat desa yang rawan tsunami ini sudah terbentuk Desa Tangguh Bencana,” jelasnya. Menurutnya, Desa Tangguh Bencana ini mempunyai kemampuan mandiri menghadapi bencana hinnga memulihkan diri usai menghadapi bencana. Terkait riset ITB, kata Eka, warga di empat desa tersebut aktif melakukan komunikasi kepada pihak BPBD.

Selain itu, Pemkab Banyuwangi  memastikan berfungsinya alat early warning system (EWS)  yang terpasang di sejumlah pantai di Banyuwangi. Saat ini, ada tiga EWS di Banyuwangi. Sebelumnya sembilan EWS yang berfungsi. Celakanya, tujuh dalam kondisi rusak karena terjangan ombak tinggi.

“Tinggal dua EWS yang berfungsi, di Muncar dan Pancer. Satu alat baru EWS di Pantai Grajagan. Sehingga total tiga yang berfungsi,” imbuhnya. Rencananya bulan depan akan dipasang lagi satu EWS di Pantai Rajegwesi. Sedangkan yang rusak akan diperbaiki bertahap. (wir)