Takari Yoedaniawati : Saat Pandemi, Industri Besar Gulung Tikar UMKM Tumbuh

15

Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Dampak pandemi covid-19 yang berkepanjangan berpengaruh terhadap perekonomian di Indonesia. Banyak industri yang gulung tikar karena daya beli masyarakat melemah. Pemerintah sudah banyak mengeluarkan program bantuan untuk mengatasi masalah ekonomi. Tujuannya, menjaga daya beli masyarakat agar tetap stabil.

Salah satunya, dengan memberikan keringanan pajak untuk pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah/UMKM. Kalau sebelumnya, berapapun omzet dari UMKM, pajaknya 0,5 persen sekarang tidak lagi dikenakan pajak. Sebab sudah ditanggung pemerintah sampai Desember.

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Jatim II menyampaikan bahwa sektor usaha UMKM merupakan penyokong ekonomi Indonesia. Sebab 71,99 persen pelaku usaha dari UMKM, dengan Produk Domestik Broto (PDB) hingga 60,7 persen.

“Banyak industri besar yang gulung tikar, tapi sektor UMKM justru tumbuh. Tapi persaingannya semakin ketat, karena banyak korban PHK yang membuka usaha. Makanya, perlu strategi khusus supaya jenis usaha ini tetap survive,” kata Kabid P2Humas Kanwil DJP Jatim II, Takari Yoedaniawati, saat dikonfirmasi pada acara Business Development Servive (BDS) dengan thema strategi UMKM Merespon Dampak Pandemi Covid-19 yang dilaksanakan secara daring, Selasa (22/9) lalu.

Dalam kegiatan ini, Kanwil DJP Jatim II menggandeng Grab. Kenapa harus Grab ? Takari menjelaskan, bahwa saat ini masyarakat yang banyak bertransaksi secara online. Oleh sebab itu, para pelaku ekonomi kerakyatan ini dapat memanfaatkan fasilitas digital. Seperti grab untuk menjaga usahanya tetap bisa bertahan di masa pendemi ini.

“Sekarang paling gampang jualan di online, tapi kadang mereka tidak mengerti, baik syarat mendaftar, atau fitur yang ada didalam aplikasi tersebut. Makanya, kami gandeng grab untuk dapat memasarkan usaha,” ungkap Takari, yang juga mengundang pemateri dari pihak grab guna memberikan penjelasan kepada pelaku UMKM itu, agar mereka dapat langsung memanfaatkan peluang ini.

Secara nasional, pelaku UMKM yang memanfaatkan keringanan pajak baru 10 persen. Sedangkan untuk wilayah DJP Jatim II sudah 30 persen. Makanya akan kembali didorong supaya lebih memahami atas progam tersebut. “Kami akan terus mensosialisasikan ini, agar semua dapat terdata dengan baik,” ucapnya.

Disisi lain, kerjasama dengan Grab tidak hanya sebatas ini saja. Tapi masih ada tindak lanjutnya. Misalnya, membangun kerjasama dengan keanggotaannya di Grab Food. “Progam lain juga nanti akan kita coba kerjasamakan untuk menggali potensi pajak,” pungkasnya. (rin)