Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Masyarakat diajak mengembangkan urban farming di lingkungan tempat tinggal. Pertanian perkotaan ini dinilai penting agar masyarakat tetap survive di tengah pandemi Covid-19. “Sektor pangan masih prospek sampai lima tahun ke depan. Maka, dalam situasi apa pun, lahan harus dikembangkan, apakah sempit atau luas. Apakah perkotaan atau perdesaan,” kata Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur/Jatim, Erma Susanti, di Surabaya kemarin.

Erma mengatakan, lewat urban farming, masyarakat bisa menanam berbagai komoditas menyehatkan, seperti sayur organik dan tanaman sehat lainnya. Hasilnya bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Mereka bisa menyasar segmen orang-orang yang sadar dengan gaya hidup sehat. Atau bahkan rumah sakit yang siap dengan suplai komoditas sehat,” ujarnya.

 Khusus untuk para petani, Erma, mengajak mereka untuk menanam tanaman herbal. Diversifikasi pertanian ini dianggap perlu di tengah kebutuhan tanaman herbal yang cukup tinggi selama pandemi. “Lahan pertanian masih cukup luas. Selain padi atau tanaman pangan lain, mereka bisa menanam jahe, kunyit, temu lawak dan jenis tanaman obat lain. Sama seperti tanaman pangan, tanaman herbal itu juga punya nilai ekonomis yang cukup tinggi,” katanya.

Bahkan, lanjut, Erma, bila petani bisa mengolahnya menjadi produk olahan, keuntungannya akan jauh lebih besar. “Tanaman herbal ini bisa diolah menjadi jamu atau minuman suplemen lain. Kalau ini bisa dilakukan, tentu akan menjadi sumber ekonomi baru bagi masnyarakat di perdesaan,” katanya.

Atas program ini, pihaknya bersama DPRD Jatim akan meminta pemerintah provinsi untuk membantu menciptakan pasar. Harapannya, hasil dari urban farming maupun tanaman obat tersebut bisa cepat terserap.  “Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan harus berinovasi. Membuat terobosan-terobosan agar ada pasar jelas bagi petani di Jatim,” pungkas politisi asal Blitar ini. (bw)