Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Keluhan tol laut Tanjungwangi, Banyuwangi – Lembar, Lombok terus bergulir. Setelah Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Jatim, para sopir ikut mengeluhkannya. Mereka menyayangkan jadwal kapal tol laut ini yang tak jelas. Sehingga, para sopir kerap menunggu lama.  Saking lamanya, para sopir pernah menunggu hampir dua hari.

Akibat jadwal tak jelas ini,  para sopir harus rela tidur di areal parkir tunggu, beberapa ratus meter dari Pelabuhan Tanjungwangi. “Sebenarnya, tol laut ini cukup membantu para sopir. Ketika akan ke Lombok, tidak perlu mengemudi  lama. Justru, bisa tidur di kapal. Tapi, lamanya antre menunggu kapal yang dikeluhkan para sopir,” kata Fincensius Antonius Rani, salah satu sopir truk, Jumat (18/9) siang.

Pria asal Flores, NTT ini menambahkan idealnya tol laut yang menjadi unggulan pemerintah bisa memberikan kenyamanan bagi para sopir. Salah satunya, jadwal kapal yang pasti. “Kalau sekarang, jadwalnya harus menunggu. Padahal, kami membutuhkan layanan ini,” imbuhnya.

Menurut Antonius, para sopir cukup terbantu dengan kapal tol laut. Selain biayanya terjangkau, resiko di perjalanan menjadi berkurang. Biasanya, para sopir harus menyeberang dua kali, mulai Ketapang – Gilimanuk, lalu Padangbai-Lembar. Dengan tol laut, penyeberangan hanya dilakukan sekali.

Begitu naik kapal, para sopir bisa beristirahat. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 10 jam. Dibandingkan jalur darat dari Pelabuhan Ketapang, para sopir harus menempuh perjalanan panjang. Dari Ketapang  menuju Padangbai membutuhkan waktu sekitar 8 jam. Setelah itu, harus antre lagi di Padangbai.

“Antre di Padangbai, bisa sampai 12 jam, menunggu kapal yang cocok untuk kendaraan besar,” ujarnya. Pihaknya berharap, pemerintah bisa membuat kepastian jadwal tol laut ini. Sehingga, para sopir tidak menunggu lama di sekitar Pelabuhan Tanjungwangi.

Keluhan senada diungkapkan Suparjo (46), sopir truk asal Sidoarjo. Pria ini mengaku, tol laut bisa memangkas resiko perjalanan para sopir. Seperti, kemacetan hingga resiko kecelakaan di jalan. Namun, para sopir harus menunggu lama ketika akan naik kapal dari Pelabuhan Tanjungwangi. “ Yang dikeluhkan itu, jadwal kapal tidak jelas.

Terkadang kapal datang siang, malam baru bisa masuk kapal,” keluhnya. Pihaknya berharap, para sopir diberikan kepastian jadwal. Sehingga, bisa mengatur perjalanan. Akibat tidak ada kepastian jadwal, banyak para sopir yang memilih jalur darat ketika menuju Lombok dari Pelabuhan Ketapang. Alasannya, tidak ingin menunggu kapal yang datanya belum pasti.

“Kalau sopir mengangkut barang cepat, tidak bisa menunggu lama. Jadi, terpaksa lewat jalur darat,” tegasnya. Tol laut dari Tanjungwangi, Banyuwangi menuju Lembar, Lombok dibuka mulai 10 Agustus 2020. Tol laut banyak dinikmat para pengemudi truk besar pengangkut barang tujuan Surabaya-Lombok. Sayangnya, hingga detik ini belum ada pernyataan resmi dari Pelindo III Tanjungwangi terkait fasilitas tol laut tersebut. (wir)