(bisnissurabaya.com) – Jumlah pekerja independen atau gig worker di Indonesia dengan penghasilan lebih dari Rp 3 juta per bulan (US $200) mengalami penurunan. Dari 43 persen pada Maret hanya 5 persen pada Juni/Juli 2020. Selain itu, terdapat lonjakan besar dalam jumlah pekerja independen atau gig worker dengan penghasilan kurang dari Rp 1 juta ($70), dari 8 persen pada Maret menjadi 55 persen pada Juni/Juli.

Penegasan itu dikemukakan, Managing Partner Flourish Ventures, Tilman Ehrbeck, Rabu (9/9). Ia menjelaskan, Flourish Ventures, merupakan perusahaan modal ventura global dengan investasi portofolio di Indonesia dan seluruh Asia.
‘’Dalam laporan terbaru, Flourish mengevaluasi bagaimana pekerja independen atau gig worker dalam ekonomi informal Indonesia. Seperti para pengemudi berbagi tumpangan atau ridesharing, penjual online, penyedia jasa rumah tangga, dan kurir pengiriman, mengatasi pandemi Covid-19. Sebagian besar dari mereka telah terkena dampak yang besar, 86 persen responden menyatakan bahwa penghasilan mereka berkurang,’’ jelasnya.

Menurut dia, dalam laporan itu juga menyebutkan 74 persen responden sangat khawatir tentang Covid-19. Pekerja independen atau gig worker lebih khawatir tentang dampaknya pada mata pencaharian mereka (52 persen) daripada pada kesehatan mereka (14 persen). Pekerjaan yang memerlukan interaksi tatap muka lebih terkena dampaknya.
Ada 71 persen penyedia layanan kesehatan di rumah (seperti mereka yang menawarkan jasa pijat di rumah), 65 persen pengemudi berbagi tumpangan atau ridesharing, dan 55 persen pengemudi pengiriman telah kehilangan penghasilan. Penjual online dan pekerja rumah tangga lainnya, seperti asisten rumah tangga, tidak terlalu terkena dampaknya.
Tidak ada perbedaan penghasilan antara jenis kelamin. Laporan menunjukkan bahwa pria dan wanita sama terpengaruhnya oleh penurunan ekonomi akibat Covid-19 2 di Indonesia. Di negara-negara lain yang disurvei sebagai bagian dari seri The Digital Hustle, kaum wanita lebih terkena dampaknya. Pekerja independen atau gig worker di kota-kota besar paling terkena dampaknya. 63 persen responden kehilangan penghasilan, dibandingkan dengan 49 persen di kota-kota yang lebih kecil.

Pekerja independen atau gig worker di Indonesia hidup dalam tekanan. Hampir 60 persen responden mengatakan bahwa jika mereka kehilangan sumber penghasilan utama mereka, mereka tidak akan dapat mencukupi pengeluaran rumah tangga mereka dalam satu bulan tanpa meminjam uang.“Dalam penurunan ekonomi akibat pandemi Covid-19, pekerja independen atau gig worker telah secara signifikan terkena dampaknya dan mereka tetap rentan mengalami kesulitan dalam hal finansial,” kata Tilman Ehrbeck.
“Ekonomi dengan sistem pekerja independen atau gig worker memungkinkan jutaan pekerja dalam sektor informal Indonesia, yang secara historis kurang diperhatikan oleh industri finansial, meresmikan mata pencaharian mereka dan menjadi lebih terhubung ke keuangan digital. Kami melakukan riset ini untuk memahami bagaimana perusahaan Fintech dapat dengan lebih baik melayani para pekerja independen atau gig worker ini, serta individu dan usaha kecil yang rentan mengalami kesulitan, selama krisis ini dan di masa mendatang,” paparnya. (bw)