Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Peneliti Universitas Airlangga/Unair Surabaya tak hanya mutasi D614G, virus corona juga bermutasi menjadi corona lain yang jarang ditemui. Yakni tipe Q677H. Pakar Biomolekular Unair Surabaya menemukan mutasi baru virus corona atau covid-19, Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih, mengatakan, mutasi ini mempercepat penyebaran virus corona.

Namun, belum sampai tahap penelitian berpengaruh terhadap meningkatnya angka kematian. Ia mengklaim, mutasi ini baru ada di Surabaya. Ada dua mutan yang berdekatan dan dari peta sebaran di Indonesia, satu-satunya baru di kota Surabaya.
Menurut dia, mutan ini posisinya dekat dengan pemotongan purin enzim protease yang dimiliki sel inang dalam hal ini manusia, tepatnya di sel paru-paru. Mutan tersebut ada bersama-sama dengan mutan D614G. Mutan baru ini membantu energi antara purin dan spike semakin tinggi. Artinya, purin akan meningkat kemampuannya untuk lebih baik.
Khusus untuk virus mutasi corona D614G, di Indonesia sudah terdeteksi sejak April. Hanya saja karena keterbatasan data, mutasi tersebut waktu itu belum dapat dimaknai apa-apa. “Sebulan setelah Indonesia terkonfirmasi ada infeksi covid-19, mutasi virus sudah ada di Indonesia. Mungkin lebih dulu dari informasi yang ada di Malaysia.

Mutasi corona D614G ini disebut-sebut memiliki kemampuan menyebar 10 kali lebih cepat. Namun, sejauh ini belum ada kesimpulan apakah mutasi virus G614 berkaitan atau berdampak terhadap tingginya angka kematian pasien covid-19 atau tidak.
‘’sebanarnya ini bukan virus corona surabaya ya,melainkan trend virus yang mutasinya berada di surabaya dan yang baru di temukan di surabaya ini mutasi berikutnya 677 ini lokasinya dan yang ini baru pertama kali di surabaya namun belum tentu di daerah lain tidak di temukan karena datanya masih terbatas dan hal ini masih belum bisa dikatakan berbahaya atau tidak namun penyebarannya sangat cepat hingga 75 persen dan bahkan hampir 80 persen,’’ katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Treacing Satgas Covid-19 Jatim, dr Kohar Hari Santoso, mengatakan, saat dilihat di lapangan memang ada kecenderungan mutasi covid-19 di Surabaya, karena penyebarannya sangat cepat. Sementara itu, hingga saat ini, angka kematian di Jatim sangat tinggi sekitar 2.370 orang.

‘’Mungkin di klarifikasi dulu soal mutannya ini dan kalau kita dari segi lapangan di masyarakat ini memang meningkat dan kalau di daerah memang satu tapi penyebarannya sangat cepat dan untuk soal mutan ini yang bisa menjelaskan dari laboratorium, dan titip bagi masyarakat harus terus melakukan physycal distancing, cuci tangan, pakai masker, dan hal ini sangat bahaya karena angka kematian tidak bisa ditekan dan kita belum tahu apakah hal ini dari yang mutan atau tidak,’’ ujarnya.

Semula Prof Tri Puspaningsih, sempat mengira mutan D614G banyak terjadi di Surabaya mengingat peningkatan angka covid di Surabaya pada Mei – Juni begitu pesat. Bahkan, sempat dikategorikan sebagai zona hitam. Sampai saat ini, dirinya masih terus melakukan pengembangan penelitian terkait mutasi corona tersebut. (irwanda/stv)