Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – MERDEKA, kata yang selalu kita dengar ketika memasuki bulan Agustus. Merdeka berarti bebas. Memilih, menentukan nasib sendiri. Era modern, merdeka tak lagi berkaitan dengan melawan penjajah. Namun, berjuang menjadikan hidup lebih baik. Saling berbagi dalam kemerdekaan.

Semangat ini terpotret dari kehidupan masyarakat Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi. Untuk menyelamatkan ibu hamil (bumil) dan bayinya, mereka membuat rumah singgah, sekitar tahun 2018. Fasilitas ini dikhususkan bagi warga terpencil yang akan melahirkan. Rumah singgah Mitra Bersama ini menjadi jembatan merdeka para bayi yang terpencil di desa tersebut.

Mereka tak lagi terjajah dari ancaman kematian karena sulitnya medan ke fasilitas kesehatan. Seperti apa kisahnya ? Desa Jambewangi lokasinya berdekatan dengan kota Kecamatan Sempu. Namun, saking luasnya, beberapa wilayah masih terpencil. Letaknya persis di lereng Gunung Raung, sebelah selatan. Statusnya milik Perhutani. Masuk Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyuwangi Barat. Tak heran jika masyarakatnya ada yang menetap di tengah hutan. Jalannya terjal, berbatu. Sulit dijangkau kendaraan umum. Hanya sepeda motor. Kondisi paling miris dialami warga kampung Tlocor dan Seling. Keduanya masuk Dusun Krajan. Umumnya, Dusun Krajan berada di keramaian. Berbeda dengan Tlocor dan Seling. Kondisinya benar-benar memprihatinkan, pelosok.

Jaraknya, sekitar 4 kilometer dari pusat dusun. Dengan Puskesmas Sempu sekitar 9 kilometer. Tak ada aliran listrik dari PLN. Pun sinyal seluler. Kondisinya sepi. Dikelilingi hutan pinus. Udaranya dingin. Jumlah warga di dua kampung pelosok ini hanya 44 KK. Mereka menggantungkan hidup dari buruh sadap pinus. Ada juga beternak domba. Ekonominya pas-pasan. Jauh dari standar layak. Mereka harus menyusuri jalan terjal jika akan berobat. Bahkan, anak-anak mulai kelas 1-3 terpaksa bersekolah darurat di kampung setempat. Baru kelas 4-6 turun ke desa untuk bersekolah di SD bersama warga lainnya.

Tinggal di pelosok tak hanya berdampak pada ekonomi. Kesehatan ikut terancam. Jauhnya lokasi, membuat warga sulit mendapatkan fasilitas ksehatan. Tak terkecuali ibu hamil. Ketika akan melahirkan, ancaman selalu menghantui. Harus menyusuri jalan berbatu. Otomatis rawan terjadi kontraksi. Bayi bisa lahir di jalan. Bahkan resiko meninggal. Sangat miris, memprihatinkan.

Kondisi ini memantik kepedulian masyarakat setempat. Khususnya yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Menjadi pesanggem (petani penggarap -red), masyarakat hutan memiliki kekompakan yang kokoh. Selalu berbagi, saling peduli. Prihatin dengan keselamatan bumil di pelosok Tlocor dan Seling, tercetus ide rumah singgah melahirkan. Ide itu dimulai ketika melihat bumil yang melahirkan di tengah jalan. Sekitar tahun 2014, ada bumil lahiran di jalan. Meski selamat, ibu dan bayinya harus dirawat lama di rumah sakit, kisah Nurkhamid, Ketua LMDH Mitra Hutan Lestari Desa Jambewangi, Selasa (25/8) siang.

Pria yang akrab dipanggil Khamid ini mengisahkan, kala itu, rumah singgah belum permanen. Masih menumpang di rumah Ketua RT setempat. Jadi, kalau ada warga Tlocor dan Seling mau melahirkan, ditampung sementara di rumah Ketua RT, Toni, jelasnya. Akhirnya, lanjut Khamid, Ketua RT setempat menghibahkan lahan untuk dibangun rumah singgah. Lahan bekas pos ronda itu di kawasan teritorial negara, petak 60. Ukurannya sekitar 6 x 9 meter. Sekitar Agustus 2018 dibangunlah rumah singgah permanen, berukuran 4 x 4,5 meter. Bangunannya sederhana.

Namun, terlihat menarik. Seluruhnya hasil iuran masyarakat desa hutan, TNI/Polri dan perangkat Desa Jambewangi. Total biaya tembus Rp 12 juta. Tak sedikitpun diambilkan dari warga Kampung Tlocor dan Seling. Hebatnya, pembangunan hanya butuh satu bulan. Hanya tukang kayu dan batu yang dibayar. Tenaga lainnya murni swadaya masyarakat bersama Babinkamtibmas, Babinsa dan Perhutani, jelas Khamid.

Letak rumah singgah cukup strategis. Di pojok dusun, persis di pinggir jalan. Dekat jalur masuk ke Kampung Tlocor dan Seling. Temboknya dicat putih. Pintunya berbahan kayu, warna coklat. Lantainya keramik putih. Terlihat serasi. Kondisinya bersih terawat. Di dalamnya ditempatkan sebuah ranjang dan meja kursi. Ada juga almari obat dan sebuah toilet. Rumah singgah ini diberi nama Mitra Bersama. Filosofinya, kata Khamid, sebagai simbol kebersamaan. Saling asuh, berbagi dalam kekurangan seluruh elemen masyarakat. “ Kami ingin memberikan kemerdekaan bagi bumil dan bayinya. Jangan ada lagi tragedi bayi lahir di jalan, tegas Khamid. Selesai dibangun, rumah singgah Mitra Bersama menjadi simbol kebersamaan warga pinggir hutan Jambewangi. Bersama Babinkamtibmas dan perangkat lainnya, warga merawat rumah singgah tersebut, bergiliran. Rumah singgah diresmikan Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman. Rumah singgah, menurut Kapolres, bagian dari program Polisi bersama rakyat.

Tangisan bayi pertama pecah di rumah singgah, September 2018. Sebulan setelah diresmikan. Semua sumringah. Tertawa lepas. Bumil dan bayinya merdeka. Lahir dengan selamat. Tak lagi dijajah resiko kelahiran di jalan. Kemerdekaan ini dinikmati Jumiati (19), bumil asal kampung Tlocor. Sebelum rumah singgah berdiri, istri dari Mashudi (29) ini sempat was-was. Ekonominya pas-pasan. Jika harus kos di dekat Puskesmas, biayanya tak ada. Belum lagi persoalan waktu bekerja sebagai penyadap pinus. Khamid mengisahkan, begitu rumah singgah berdiri, pihaknya bersama Babinkamtibmas Jambewangi berinisiatif menjemput bumil di Tlocor.

Satu minggu sebelum melahirkan, petugas Babinkamtimas bersama kader Puskesmas menjemputnya. Karena sulitnya medan, petugas tak bisa membawa mobil ambulans. Terpaksa dijemput dengan motor. Sang bumil sempat kaget. Mendadak didatangi polisi. Begitu dijelaskan, sang bumil menurut. Akhirnya, dibawa turun, tinggal di rumah singgah. Proses penjemputan cukup dramatis. Bumil dibonceng pakai motor, karena ambulans tidak bisa masuk, kenang Khamid. Tiba di rumah singgah, bumil disambut warga sekitar. Diberikan dukungan. Bumil tak tinggal sendirian. Tetangga menghibur, sembari memberikan makanan. Seluruh fasilitas yang diberikan murni swadaya. Tak dipungut biaya apapun, gratis.

Rumah singgah bukanlah tempat untuk melahirkan. Hanya transit sembari menunggu jadwal kelahiran. Setiap hari, bidan desa rutin memberikan pemeriksaan kesehatan bagi bumil. Begitu akan melahirkan, bumil dibawa ke puskesmas. Biasanya, seminggu setelah di rumah singgah, sang bayi lahir. Setelah dua minggu di rumah singgah, sang bayi dibawa kembali ke Tlocor. Keluarga kompak sumringah. Benar-benar merdeka. Sebelum ada rumah singgah, warga hanya mengandalkan bantuan dukun bayi ketika melahirkan. Alasannya beragam. Selain minim sinyal, mereka khawatir jika harus turun ke puskemas. Jalan yang dilalui rawan memicu kontraksi. Akhirnya, memilih jasa dukun bayi. Meski, beresiko.

Tinggal terpencil, bukan tanpa sebab bagi warga Kampung Tlocor dan Seling. Mereka sejatinya bukan asli warga Desa Jambewangi. Namun pendatang, bekerja sebagai buruh sadap. Mereka mulai berdatangan sekitar tahun 1970-an. Asalnya, Jember dan Lumajang. Awalnya, hanya membuat gubuk-gubuk darurat. Selanjutnya, membuat rumah semi permanen dan beranak pinak. Pemerintah Desa akhirnya memasukkan mereka sebagai warga setempat. Kini, mencapai sekitar 80 jiwa. Lumayan banyak. Menurut Khamid, rumah singgah Mitra Bersama baru satu kali menjadi penyelamat bumil.

Mungkin tahun depan akan banyak yang akan melahirkan di rumah singgah. Infonya ada beberapa warga yang sudah hamil, kata Khamid. Pihaknya selalu berkoordinasi bersama tokoh Kampung Tlocor dan Seling jika ada yang hamil. Mereka akan diajak turun ke rumah singgah jika mendekati jadwal melahirkan. Baginya, bisa berbagi adalah perjuangan mengisi kemerdekaan.

Jadi Percontohan dan Wisata Edukasi
Kemerdekaan bumil di rumah singgah Mitra Bersama menjadi simbol kebersamaan komponen masyarakat di Desa Jambewangi. Mulai LMDH, pihak desa, Perhutani, Puskesmas dan TNI/Polri. Simbol kebersamaan ini mendapat apresiasi banyak pihak. Tak terkecuali pemerintah pusat. Bahkan, Kapolri langsung memberikan apresiasi rumah singgah tersebut. Berkat kerjasama yang baik dengan lintas masyarakat, mantan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memberikan penghargaan kepada Babinkamtibmas Brigadir Oky Prasetyo atas dedikasinya. Kami ikut bangga dengan apresiasi itu. Artinya, gotong royong kami benar-benar bermanfaat bagi semua, ujar Khamid. Sejak diresmikan, kata Khamid, sudah ada dua bumil yang memanfaatkan rumah singgah itu. Selain sebagai tempat transit bumil, rumah singgah ini dijadikan pos kesehatan masyarakat. Setiap Sabtu digelar Posyandu. Layanan ini diperuntukkan untuk anak-anak penyadap dan pesanggem. Sehingga, kesehatan bayinya tetap terjaga. Mereka juga diberikan makanan tambahan bergizi. Menurut Khamid, meski bekerja di hutan, anak-anak penyadap dan pesanggem harus tetap merdeka dalam pemenuhan gizi.

Rumah singgah Mitra Bersama tidak hanya menjadi simbol kebersamaan masyarakat pinggir hutan di Desa Jambewangi. Kehadirannya juga sebuah kebanggaan. Apalagi, mengantarkannya menjadi juara nasional Babinkamtibas terbaik. Terakhir, lanjut Khamid, Asisten Perencanaan (Asrena) Kapolri menyempatkan berkunjung ke rumah singgah. Ini jelas menjadi kebanggaan warga, imbuhnya. Tak hanya menjadi fasilitas sosial, rumah singgah juga menjadi percontohan. Bahkan, wisata edukasi. Sejumlah lembaga sempat berkunjung ke rumah singgah untuk melihat manfaatnya. Menurut Khamid, pihaknya bersama berbagai komponen masyarakat akan terus menambah fasilitas di rumah singgah.

Sehingga, manfaatnya makin dirasakan warga terpencil. Selain rumah singgah, di musim pandemi Covid-19, pihaknya bersama lintas elemen membangun rumang tangguh. Tujuannya, siaga dalam penanganan pandemi. Menurut Khamid, tinggal di pinggir hutan, masyarakat merasa satu nasib. Sama-sama bergantung dari hutan. Karena itu, selalu kompak, saling membantu sesama warga pinggir hutan. “Kami tidak ingin ada yang kekurangan dengan fasilitas publik, salah satunya fasilitas kesehatan. Kita kan sudah sama-sama merdeka. Jadi, harus sama-sama merdeka dalam hal apapun,” pungkasnya. Kepala Desa Jambewangi Maskur mengatakan rumah singgah Mitra Bersama di desanya menjadi salah satu inovasi unggulan. Fasilitas ini, kata dia, memberikan keamanan dan kenyamanan bagi warga terpencil yang akan melahirkan. Jadi, bumil ditransitkan secara aman. Waktunya melahirkan, tidak lagi menempuh jalan berbahaya, tegasnya. (budi wiriyanto)