Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Makanan mie  identik dengan tepung terigu. Namun, ibu-ibu di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi berhasil membuat mie berbahan ubi. Mereka memanfaatkan ubi ganyong. Benar-benar unik.  Rasanya tak kalah gurih. Bahkan, lebih lembut dibandingkan mie tapioka. Kreasi nyeleneh ini berhasil menjadi juara  Festival Panan Non Beras (Fepanora) 2020 Kabupaten Banyuwangi di Agro Wisata Tamansuruh, Kecamatan Licin, Kamis (27/8) siang.

Butuh kesabaran untuk menciptakan kreasi mie ganyong. Berawal dari melimpahnya ubi ganyong, kreasi ini muncul. Proses pembuatan mie diawali membuat tepung ganyong. Caranya, ubi ganyong diiris halus, selanjutnya digiling. Gilingan ubi diperas. Sari pati perasan ini yang menjadi tepung. Lalu, dikeringkan. “Butuh waktu sekitar 3 hari untuk membuat tepung ganyong. Itu pun jika cuaca panas,” kata Wahyu Dwi Lestari, Ketua Tim PKK Desa Tamansari.

Istri Kades Tamansari ini mengisahkan, tanaman ubi ganyong banyak tumbuh di desanya. Jika dipanen, tak laku dijual. Namun, tahun 2013 pihaknya mendapat bantuan bibit ubi ganyong dari Dinas Pertanian Banyuwangi. Akhirnya dibuat tepung ganyong. Hasilnya mengejutkan. Tepung ganyong banyak dilirik pasar. Termasuk, dijadikan mie instan.

Menurut Dwi, rasa mie ganyong mirip tepung sagu. Bisa dijadikan pengganti nasi. Makanan ini bertambah unik disajikan dengan keripik jantung pisang. Ditambah sambal kluwak. Rasanya bikin ketagihan. Apalagi dibuat agak pedas. “Mie ganyong ini kami beri nama minyong pah alias mie ganyong pelepah,” lanjut Dwi. Pihaknya akan mengembangkan produk mie ini secara massal. Terutama, tepung ubi ganyong. Sehingga, ibu ganyong bisa bernilai harga.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas memberikan apreasi makanan olahan non beras ini. Menurutnya, di musim pandemi, masyarakat bisa diajak kreatif membuat makanan olahan berbasis potensi lokal. “Ini bisa menjadi ide kreatif. Makanan non beras bisa digalakkan berbasis potensi lokal,” kata Anas. (wir)