Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Surabaya kembali menjadi zona oranye setelah sebelumnya masuk dalam zona merah penyebaran covid-19. Namun, masyarakat harus tetap menjaga protokol kesehatan karena virus covid-19 sudah bermutasi menjadi lebih ganas. Bahkan, menurut Ahli Mikrobiologis sudah bermutasi 10 kali lipat sejak awal kemunculannya.

Surabaya sempat menjadi zona merah, kini Surabaya kembali menjadi zona oranye. Dimana jumlah penyebaran covid-19 di Surabaya bisa dikendalikan Pemkot Surabaya. Berdasarkan data 26 Agustus, sudah lebih dari 11.715 warga Surabaya terpapar virus covid-19. Sebanyak 9.083 orang sudah dinyatakan sembuh dan 906 orang meninggal dunia. Meski beberapa orang sudah dinyatakan sembuh, namun, hingga saat ini penyebaran virus belum bisa dibendung, mengharuskan masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.

Dokter Agung Dwi Wahyu Widodo, Ahli Mikrobioloagi Klinis RSUD dr Soetomo Surabaya menyebut, jika covid di kota Surabaya saat ini lebih ganas dibanding di wilayah lain. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan beberapa waktu lalu, virus covid-19, di Jakarta telah bermutasi 5 x lipat, sedangkan di Surabaya sudah 10 kali lipat.

Lebih lanjut, Ahli Mikrobiologi yang juga Ketua Perhimpunan Pengendali Infeksi/Perdalin Cabang Surabaya, menegaskan, saat ini, kondisi virus yang masuk ke surabaya cukup mengerikan. Selain memiliki riwayat yang cukup luar biasa, saat ini tren virusnya bukan melemah tapi justru meningkat dan menjadi klinis lebih berat. Karena mengalami proses migrasi sekaligus mutasi yang cukup besar. Dengan mutasi lebih dari 10 kali lipat, ada kemungkinan proses penyebarannya juga semakin cepat dan lebih ganas. Karena itu, saat ini perlu dilakukan penelitian lebih cepat.

Lulusan Kedokteran Unair Surabaya ini menjelaskan, biasanya virus yang telah bermutasi sebanyak itu dan menunjukkan keganasan bisa menimbulkan banyak implikasi. Antara lain, bisa mempengaruhi, diagnosis, proses infeksi atau keganasan virus itu sekaligus mempengaruhi efek dari terapi yang akan diberikan kepada pasien. Apalagi, para pasien yang mempunyai comorbid atau penyakit penyerta, tentunya bisa berakibat fatal. (irwanda/stv)