Surabaya, (bisnissurabaya.com) –

ratusan yang tergabung dalam komunitas pejuang surat ijo Surabaya, kPSIS berunjuk rasa di depan balai kota surabaya. Aksi ini nyaris ricuh, lantaran pihak kepolisian menghalangi pendemo yang ingin masuk ke balai kota, untuk menyerahkan berkas persetujuan dari warga/ yang menginginkan hak pengelolaan lahan HPL dihapus.

Aksi saling dorong ini terjadi antara massa pendemo dengan pihak aparat, lantaran menghalangi pendemo/ yang ingin masuk ke balai kota. Massa yang merasa dihalangi, akhirnya memaksa dengan mendorong barisan aparat yang tengah berjaga. Aksi dorong pun tak terhindarkan. Pihak kepolisian dengan keamanan balai kota bermediasi dan sejumlah perwakilan pendemo akhirnya diizinkan masuk. Ketegangan kembali terjadi. Salah satu perwakilan sempat bersitegang dengan pihak keamanan balai kota, karena tidak diizinkan untuk menunggu di loby.

Pembina KPSIS, Taufik Iman Santoso, menjelaskan, Pemerintah Kota/Pemkot dinilai melanggar ketentuan, dengan mengajukan tanah negara menjadi H. Yang kemudian disewakan dengan alasan retribusi. Pihaknya mendorong pemerintah pusat untuk menghapus HPL. Dan pihak DPRD agar menggunakan hak interpelasi, untuk menyelidiki apakah aset ini milik pemkot Surabaya.

Berdasarkan data yang ada, terdapat 48.000 persil surat ijo yang tersebar di 23 kecamatan, di Surabaya. Tanah surat ijo tersebut, dihuni oleh 400.000 jiwa. Menurut Taufik, nilai retribusi surat ijo sebesar Rp 50 millir. Nominal yang sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai apbd kota surabaya yang mencapai Rp 10,3 triliun. Sehingga apabila surat ijo dihapus tidak membawa dampak berarti bagi sumber pendapatan kota surabaya. (stady/stv)