Tantangan dan Hambatan Menuju Panggung Politik Pilkada

19

Gresik, (bisnissurabaya.com) – Topik diatas  sebenarnya awal dari cuitan di group WA Panggung Politik. Ada yang menginginkan diskusi ringan sebagai sarana penyampaian pendapat dan argumentasi di ruang publik lewat media sosial (group WA). Sebenarnya banyak judul atau thema yang disampaikan di group WA panggung politik. Namun, menurut saya, topik yang diusulkan tersebut masih kurang mewakili permasalahan yang dihadapi masyarakat Gresik saat ini.

Banyak masalah yang menjadi isu publik ataupun isu politik. Dengan topik diatas, diharapkan akan muncul pendapat, ide maupun gagasan yang membangun sesuai dengan harapan kita semua. Yaitu, menuju Gresik yang lebih maju dan sejahtera bagi masyarakatnya. Namun, sayang diskusi ini tidak berlanjut. Mungkin karena keterbatasan waktu maupun referensi dalam sampaikan pendapat dari masing-masing anggota group, dengan harapan dalam diskusi tersebut dapat menggali potensi permasalahan.

Menakar karakter kepemimpinan serta komitmen dari masing-masing paslon bupati yang akan bertarung di pilkada serentak nanti. Disetiap jalannya sebuah pemerintahan baik di pusat maupun daerah tentu akan menghadapi sebuah tantangan dan hambatan dalam mewujudkan visi dan misinya.

Tantangan yang Menanti

Pada setiap proses pembangunan, selalu beriringan dengan tantangan yang akan melahirkan sebuah keberhasilan ataupun kegagalan. Pencapaian hasil yang sesuai dengan perencanaan dan target program, merupakan sebuah keberhasilan. Begitu pula sebaliknya, keberhasilan dapat diperoleh dengan upaya mengerahkan segala daya dan dapat melewati tantangan dengan kerja tim yang solid.

Kabupaten Gresik sebentar lagi akan melaksanakan pesta demokrasi. Yaitu, pemilihan kepala daerah/Pilkada serentak bersamaan dengan daerah lainnya. Pilkada di Kabupaten Gresik akan diikuti dua paslon. Yaitu, paslon dari incumbent dan paslon baru yang didukung enam koalisi partai. Bagi incumbent sendiri, dalam hal ini wakil bupati (masih menjabat), masa kepemimpinan SQ akan berakhir. Namun, dalam pencapaian hasil dimasa kepemimpinannya dikatakan sukses atau gagal dalam pencapaian kesejahteraan bagi masyarakatnya, tentu masyarakat Gresik dapat merasakan dan menilai, apakah selama dua periode kepemimpinan SQ sudah dapat mensejahterakan masyarakat/rakyat-nya. Atau sebaliknya, gagal dalam melewati tantangan di masa kepemimpinannya? Bagaimana dengan pemimpin (bupati) baru nanti, mampukah menaklukkan tantangan yang terbuka ini?

Tidak dapat dihindari bagi calon pemimpin (bupati) baru Gresik, menghadapi tantangan yang siap menanti. Dengan mengamati persoalan kondisi sosial yang masih menyandera masyarakat, bukanlah persoalan yang sederhana. Betapa kompleknya tantangan, karena melibatkan banyak faktor atau variabel yang harus diselesaikan. Barangkali ada baiknya saya sampaikan faktor apa saja yang menjadi tantangan kedepan.

Seperti tingkat kemiskinan masih tinggi, angka pengangguran masih tinggi, masalah pelayanan kesehatan, masalah pelayanan pendidikan dan ketimpangan dalam pembangunan sarana infrastruktur. Apa yang dikemukakan di atas merupakan bukti dalam memahami kondisi sesungguhnya saat ini. Seharusnya, yang diharapkan dalam jalannya pemerintahan adalah keadilan sosial yang merupakan sesuatu yang melekat dalam nilai normatif kita.

Hambatan yang Dihadapi

Usaha untuk mewujudkan kehidupan sosial yang berkeadilan adalah bagian dari pembangunan. Dengan demikian, upaya untuk mewujudkan kehidupan sosial yang berkeadilan adalah proses yang berlangsung terus-menerus, karena merupakan bagian integral dari amanat undang-undang dasar 1945.

Suatu perencanaan pembangunan akan tepat mengenai sasaran, terlaksana dengan baik, dan termanfaatkan hasilnya, apabila perencanaan tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam mewujudkan pelaksanaannya, perlu komitmen pemimpin dan tim work perangkat daerah yang solid, yang dapat mengorganisir lembaga pemerintahan dengan benar.

Setiap perencanaan pembangunan dan mengimplementasikan dalam kebijakan, sering terjadi hambatan yang mengakibatkan tertundanya suatu program/proyek pembangunan. Apalagi diperparah dengan kondisi saat ini. Hampir semua sektor kegiatan perekonomian masyarakat lumpuh akibat kondisi pandemi wabah virus covid-19 (corona).

Sebab, pemerintah fokus dalam pencegahan serta penyembuhan terhadap korban virus corona. Dana yang seharusnya untuk kegiatan pembangunan, untuk sementara anggaran tersebut dialihkan ke penanggulangan wabah virus corona. Ini bagian dari contoh hambatan yang nyata dan riil yang saat ini masih kita hadapi bersama. Pemerintah saat ini dalam posisi dilemma, karena didalam mengambil sebuah kebijakan berdasarkan skala prioritas yang pilihannya fokus dalam penanggulangan wabah virus corona atau pemulihan ekonomi yang harus segera dilakukan.

Karena di khawatirkan, kita terpuruk dalam kondisi krisis ekonomi. Jika memungkinkan, pemerintah akan menjalankan dua kebijakan sekaligus. Yaitu, penanggulangan wabah virus corona dan pemulihan ekonomi. Mari kita persempit lagi pandangan kita dengan kondisi di Gresik, agar lebih fokus dalam mengamati setiap kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Daerah Gresik. Apakah, sudah sesuai dengan harapan dan kebutuhan bagi masyarakatnya atau sebaliknya. Karena berdasar pengamatan dan kondisi saat ini, sebenarnya kita dalam kondisi stagnan.

Artinya, pencapaian pembangunan Pemda Gresik masih jauh dari harapan masyarakat. Karena masih banyaknya persoalan-persoalan yang belum diselesaikan. Bahkan, diabaikan sampai menjelang berakhirnya masa jabatan pemerintahan sekarang ini. Tidak tercapainya program pembangunan untuk kesejahteraan bagi masyarakat, tentu menjadi evaluasi dan koreksi untuk pemerintah daerah saat ini dan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah yang akan datang. Setiap kegagalan dalam program, diakibatkan adanya hambatan-hambatan yang disebabkan dari ;

  1. Komitmen pemimpin dalam membuat kebijakan. Ini sering dipengaruhi oleh kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok tertentu.
  2. Keterbatasan anggaran dalam mewujudkan program pembangunan yang telah direncanakan.
  3. Tidak adanya tim work yang solid, dalam hal inidari Organisasi Perangkat Daerah/OPD.
  4. Pemerintahan yang korup.
  5. Lemah dalam pengawasan terhadap kinerja aparatur pemerintahan yang dipimpinnya.
  6. Tidak memiliki jiwa leadership, yang dapat mempengaruhi sikap dalam mengambil keputusan maupun kebijakan.

Nah, dari penjelasan diatas, tentu para pembaca dapat memilah dan menakar kualitas dari masing-masing paslon, sebelum menjatuhkan pilihannya pada 9 Desember 2020 nanti. Mari kita sambut pesta demokrasi dalam Pilkada dengan suka cita. Karena kita akan memilih calon pemimpin yang amanah dan dapat mensejahterakan bagi masyarakatnya. (Mas’ud Hakim, M.Si/Direktur Eksekutif PiAR)