Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Ratusan warga Lamongan menggelar sedekah bumi sebagai wujud syukur panen melimpah. Menariknya, tradisi turun temurun yang digelar di punden atau makam sesepuh desa di tengah sawah ini dihadiri Kades ‘Biduan’ Angeley Emitasari. Uniknya, pemimpin desa diharuskan menjalani ritual membakar jerami padi, menabur beras kuning berisi uang koin di lahan sawah, hingga melempar ribuan uang koin atau udik-udikan yang menjadi rebutan ratusan warga.

Seperti inilah sedekah bumi yang digelar warga Desa Kedungkumpul Kecamatan Sukorame Kabupaten Lamongan. Tradisi turun temurun sebagai wujud syukur panen melimpah ini, digelar setiap tahun di makam sesepuh atau punden desa yang berada di tengah alas yang dikelilingi lahan persawahan.

Dari Balai Desa Kedungkumpul, warga harus menempuh perjalanan dua hingga tiga kilometer. Menariknya, sang Kades Angeley Emitasari, terlibat langsung dalam tradisi tahunan tersebut.
Bahkan, biduan cantik yang sempat viral usai dilantik terpilih menjadi Kades Kedungkumpul 9 bulan lalu, rela berjalan kaki bersama perangkatnya menuju lokasi sedekah bumi.

Tiba di lokasi Punden, kades biduan ini disambut hangat ratusan warganya. Uniknya, juru kunci punden, sang kades yang memakai kebaya modern harus menjalani sejumlah ritual. Diantaranya, membakar jerami padi atau sekam di area buden di bawah pohon raksasa, menabur beras kuning berisi uang koin di lahan persawahan.

Puncaknya, kepala desa yang baru menjabat sembilan bulan ini, kemudian melempar ribuan koin uang atau udik-udikan dihadapan ratusan warganya. Spontan udik-udikan langsung menjadi rebutan ratusan warga yang hadir di lokasi punden desa setempat.

Kades Kedungkumpul, Angeley Emitasari, mengatakan, ritual yang harus dijalani sudah menjadi tradisi turun temurun tidak boleh dihilangkan. Ritual membakar jerami di Punden Desa, bermakna warga desa umumnya bertani harus selalu semangat dalam bekerja, meski dalam kondisi pandemi covid-19, menabur beras kuning berisi uang koin di lahan persawahan agar hasil panen semakin melimpah. Sementara, udik-udikan bermakna saling berbagi kepada sesame.

Namun sayang, tradisi sedekah bumi di masa pandemi covid-19 ini, ratusan warga terlihat berkerumun kurang menjaga disiplin protokol kesehatan. Terutama saat tradisi berebut uang koin. Meski begitu, pemerintah desa mengklaim warga sudah sesuai aturan tetap melaksanakan disiplin protokol kesehatan. (bashoir/stv)