Blitar, (bisnissurabaya.com) – Seorang nenek renta di Kabupaten Blitar harus tinggal di rumah gubug yang jauh dari kata layak. Sehari-harinya, nenek bernama Suginem ini bekerja mencari kayu bakar di tengah hutan untuk sekedar bertahan hidup. Selama pandemi, nenek Suginem, mengaku, hanya mendapatkan bantuan beras 5 kilo gram dari pemerintah.

Nenek renta ini bernama Suginem. Ia merupakan salah satu warga Dusun Dawung Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Ia menempati sebuah rumah gubug yang jauh dari permukiman warga dan jauh dari kata layak. Dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu yang mudah rusak karena dimakan rayap.

Belum lagi kalau pada saat musim hujan. Terpaan air dan angin pun membasahi hampir seluruh ruangan tempat tinggalnya. Tempat tidur satu-satunya yang terbuat dari kayu bambu pun basah kuyup, yang membuat mbah suginem, tak dapat terlelap sekedar istirahat.

Untuk bertahan hidup, Mbah Suginem, harus berjuang mencari kayu bakar di tengah hutan yang jarak tempuhnya mencapai lima kilo meter dari rumahnya. Kayu bakar tersebut dijual keliling ke rumah-rumah warga dengan hasil belasan ribu rupiah per ikat. Meski hidup dalam kemiskinan, namun, pantang bagi Mbah Suginem, untuk meminta belas kasihan dari orang lain.

Kepala Desa Pagerwojo, Mujiadi, mengaku, sudah lama mengusulkan bedah rumah milik Mbah Suginem kepada pemerintah kabupaten. Namun, hingga kini belum terealisasi dan hanya dijanjikan anggaran tahun depan.

Ironis memang, sudah 75 tahun Indonesia merdeka, tetapi, masih ada saja warga yang kesulitan hidup layak dan belum merdeka sepenuhnya. (khoirul/stv)