Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Pekerja seni panggung, budaya dan tari, kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Surabaya. Mereka tetap meminta kepada Pemerintah Kota/Pemkot Surabaya agar memberikan perizinan pelaksanaan kegiatan hajatan dan hiburan. Untuk itu, para pekerja menuntut Peraturan Wali Kota/Perwali nomor 28 dan 33 dicabut.

Untuk kesekian kalinya, ratusan pekerja seni dan budaya, menggelar aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Surabaya. Pekerja seni ini, diantaranya penyanyi, penata rias, MC, dekorasi, panggung, sound sistem, pekerja budaya reog dan tari. Mereka tetap menuntut Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, untuk mencabut Perwali 28 dan 33, tentang pembatasan jam malam dan aktifitas yang dapat menimbulkan kerumunan. Akibat penerapan perwali ini, selama berbulan-bulan pekerja seni tidak dapat mencari nafkah.

Sejumlah perwakilan pendemo akhirnya diterima Kepala BPB Linmas Surabaya, Irvan Widyanto. Beberapa anggota DPRD Surabaya, yaitu, Wakil Ketua DPRD, Reni Astuti dan Budi Leksono, juga terlihat mendampingi para pendemo. Dalam audiensi tersebut, Irvan, meluruskan tuntutan pendemo, bahwa kegiatan hajatan diperbolehkan. Irvan, menjelaskan, tidak disebutkan di perwali kegiatan hajatan dilarang.

Para pendemo mengancam akan menginap di Depan Balai Kota Surabaya, jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. (stady/stv)