Sidoarjo, (bisnissurabaya.com) – Partai Gerindra masih dimungkinkan merevisi surat rekomendasi yang telah diberikan kepada Bambang Haryo Soekartono (BHS) sebagai calon Bupati Sidoarjo dalam Pilkada 9 Desember mendatang. “Gerindra pasti akan realistis. Kalau memang memungkinkan untuk W-1 maka kita akan usung Pak BHS yang sudah mendapatkan rekom untuk mencari pasangan,” ucap kader Partai Gerindra yang kini duduk di Komisi III DPR RI, Rahmat Muhajirin.

Sebaliknya, kata dia, jika yang lebih memungkinkan untuk memenangkan kontestasi Pilkada Sidoarjo tersebut adalah W-2, maka paslonnya juga sudah ada dan telah siap dipentaskan lantaran sudah memiliki pasangan. Yakni Nur Ahmad Syaifuddin, dari PKB dan Mimik Idayana yang merupakan kader Gerindra.  Terkait hal itu, Dewan Pimpinn Cabang (DPC) Gerindra juga sudah melaporkannya ke jenjang organisasi yang ada di atasnya.

Baik ke Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jawa Timur maupun Dewan Pimpinan Pusat (DPP) di Jakarta. Ia menjelaskan, sikap realistis itu mutlak harus dilakukan mengingat partai besutan Prabowo Subianto, itu hanya bermodalkan 7 kursi yang berarti butuh teman koalisi sebagai syarat utama mendaftarkan diri ke KPU Sidoarjo. Sikap ini sudah ditunjukkan oleh Prabowo, sendiri usai kontestasi Pilpres lalu yang menerima jabatan Menteri di kabinet Jokowi agar tetap bisa membangun negara serta mengabdi pada bangsa dan rakyat Indonesia.

Lantaran itulah, ia menandaskan bahwa rekom yang sudah berada di tangan BHS masih belum final. “Yang dipegang pak BHS saat ini hanya rekom untuk mencari pasangan calon. Dan masih belum final,” jelas Rahmat Muhajirin. Meski sudah mengantongi restu dari DPP Partai Gerindra untuk maju sebagai calon bupati Sidoarjo, namun BHS belum menentukan calon pendampingnya dalam Pilkada mendatang.  Usai menyerahkan surat rekomendasi dari DPP pada DPC Partai Gerindra Sidoarjo di kantor sekretariat DPC, Sabtu (25/7), BHS menyebut ada beberapa kriteria calon wakil bupati yang dikehendakinya.

“Paling tidak mereka punya kapabilitas, akuntabilitas, akseptabilitas tinggi dan tahu persoalan Sidoarjo. Kemudian karakternya baik dan jujur serta bersih dari permasalahan,”
BHS mengatakan ada beberapa tokoh masyarakat, politisi dan alim ulama maupun pengusaha Sidoarjo yang sudah menjalin komunikasi dengannya. Namun, pengusaha kapal itu mengiyakan saat melontarkan nama Gus Muhdlor, Nur Ahmad Syaifuddin dan Sullamul Hadi Nurmawan.

“Komunikasi itu berjalan sangat intens baik melalui saya sendiri maupun tim. Salah satunya Gus Wawan. Secara langsung mereka menyatakan bersedia, hanya tunggu waktu saja,” ujar mantan anggota DPR RI periode 2014 – 2019 tersebut. Akan tetapi, keputusan final tentang calon wakil bupati tersebut bakal dibahas bersama partai koalisi dan para relawannya. Adapun parpol yang disebut siap mengusungnya diantaranya Golkar, Demokrat dan PPP.

Sementara itu, Ketua DPC Partai Gerindra Sidoarjo, Kayan, menyerahkan sepenuhnya penentuan calon wakil bupati itu pada BHS. “Mudah-mudahan tidak salah pilih. Karena wakil ini harus bisa memberi kontribusi suara besar. Makanya, seleksi wakil ini harus sesuai kondisi yang ada di Sidoarjo saat ini. Yang penting amanah,” pintanya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi terpisah, Nur Ahmad Syaifuddin, membantah klaim BHS itu. Ia menyatakan, tidak pernah berkomunikasi dengan politisi Gerindra itu terkait Pilkada. “Saya fokus menunggu keputusan DPP PKB, dan tidak benar jika saya mau jadi wakil bupati dari calon lain,” tegas Nur Ahmad. Sedangkan soal keterlibatan tokoh-tokoh PKB lainnya yang disebut BHS, Cak Nur, mengatakan perlu pertimbangan matang untuk menyeberang ke partai lain dalam kontestasi pilkada. “Soalnya kalau ikut yang lain berarti harus keluar dari PKB,” tutupnya. (rin)