Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Peristiwa Kerusuhan 27 Juli/Kudatuli adalah peristiwa pedih yang selalu dikenang warga PDI Perjuangan/ PDIP. Kejadian ini dipicu oleh perebutan kantor DPP PDI Pro Mega yang merupakan embrio PDIP, di Jalan Diponegoro 58 Jakarta yang terjadi 1996 lalu. Pengambil- alihan itu dilakukan kelompok PDI Kongres Medan pimpinan Soerjadi, serta didukung oleh aparat TNI-Polri. Kejadian memilukan dan memakan korban jiwa ini, menjadi tonggak kebangkitan PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri.

Sejarah mencatat bahwa
PDIP, kelahirannya berbeda dengan partai politik lainnya. Partai ini bukan partai yang didirikan diatas kertas bermaterai di hadapan notaris. “PDIP didirikan bersama rakyat Indonesia, dengan taruhan nyawa, berdarah-darah dan tetesan air mata,” kata Sekretaris DPC PDI Perjuangan Surabaya, Baktiono, kepada bisnissurabaya.com, di Surabaya Sabtu (25/7). Peringatan kudatuli di Surabaya tahun ini menjadi sangat istimewa, karena menjelang pemilihan Wali Kota Surabaya.

Baktiono

Momentum yang pas untuk meneguhkan jati diri PDIP sebagai partai kader yang modern dan bermartabat. Hal ini sangat beralasan. Di Kota Pahlawan PDIP menang Pilkada tiga kali berturut-turut. Mulai dari Wali Kota Bambang DH, sampai Tri Rismaharini. Banyak orang mengakui, bahwa PDIP tidak hanya mesin partainya yang tangguh, tetapi kadernya juga hebat-hebat.

Pada musim Pilwali seperti sekarang ini, tentu saja banyak yang ingin berangkat dan dicalonkan dari PDIP. Namun, kehadiran mereka tidak semudah yang dibayangkan. Mereka tidak bisa begitu saja menjadikan PDI Perjuangan sebagai tunggangan politik memenangkan pilkada. Karena, PDIP Surabaya memiliki banyak kader-kader yang mumpuni dan hebat.

Mereka adalah kader militan yang ikut mendirikan partai ini. “Mestinya semua calon yang ingin berangkat dari PDIP mawas diri, dan tidak memaksakan kehendak. Karena banyak kader militan yang mumpuni dan sudah teruji kadar ideologinya,” jelas anggota DPRD Surabaya lima periode ini. Pengusaha kerupuk ini juga menyoroti upaya pemasangan beberapa kader partai sebagai wakil wali kota oleh pihak-pihak tertentu.

Termasuk yang menempatkan dirinya sebagai wakil wali kota. “Jika hal ini diteruskan, sama dengan menghina PDIP, karena kadernya banyak yang telah berkontribusi nyata di masyarakat,” tambah utusan kongres V di Bali yang merubah nama PDI menjadi PDIP. Bahkan, ayah dari Kevin dan Holycia ini, menyebutkan bahwa kader internal yang berkiprah saat ini merupakan kader militan pelaku sejarah Promeg 96, yang berdarah-darah dalam menegakkan marwah partai di masa-masa sulit. “Peristiwa 27 Juli 1996, membulatkan perjuangan kami di Pilwali Surabaya ini,” pungkas pemain biola ini. (nanang)